PIRAMIDA Vol V No. 1 ISSN : 1907-3275 Volume V No. 1 Juli 2009 BOOK REVIEW MODEL KEPEMIMPINAN EFEKTIF I Gusti Ayu Manuati Dewi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar email: learning_ya@yahoo.com ABSTRACTS From several decades, research about leadership has been directed toward exploration of information related to determinant of leadership effectiveness. One out of these thousands of researches is done by Locke et al. (2002) which based on their study wrote a book about leadership effectiveness. They then developed a leadership effectiveness model in organizational and business fields through qualitative approach. In this model there are four components must be fulfilled by a leader, i.e motive and traits; knowledge, skill, and ability; vision; and implementation of vision. This book provide a comprehensive perspective about the essence of leadership because its picture deeply and detail related to key components of leadership effectiveness. However, they not discuss about leader ability to affect follower at all. This limitation may be due to this study has carried out through qualitative approach. Despite this limitation, there is one interesting matter must be observed attentively. Locke et al. points out the importance of management of meaning must be possessed by a leader, so he/she can manage and define situations as a critical ability that can be used as a guidance of action by the followers. Key words : Personal Attribution, Leadership Model, Leadership Trait Paradigm Pendahuluan Studi kepemimpinan yang pada awal perkembangannya cenderung bersifat induktif murni menempati posisi sentral dalam literatur manajemen dan perilaku keorganisasian pada beberapa dekade terakhir. Secara umum kajian perkembangan riset dan teori kepemimpinan dapat dikategorikan menjadi tiga tahap penting (Ogbonna dan Harris, 2000). Pertama, tahap awal studi tentang kepemimpinan menghasilkan teori-teori sifat kepemimpinan (trait theories), yang mengasumsikan bahwa seseorang dilahirkan untuk menjadi pemimpin dan bahwa dia memiliki sifat atau atribusi personal yang membedakannya dari mereka yang bukan pemimpin. Kedua, karena muncul kritik terhadap sulitnya mengelompokkan dan memvalidasi sifat pemimpin, kemudian muncul teori-teori perilaku kepemimpinan (behavioral theories). Pada teori ini penekanan yang semula diarahkan pada sifat pemimpin dialihkan kepada perilaku dan gaya yang dianut oleh para pemimpin. Dengan demikian, berdasarkan teori ini, agar organisasi dapat berjalan secara efektif, terdapat penekanan terhadap suatu gaya kepemimpinan terbaik (one best way of leading). Ketiga, berdasarkan anggapan, bahwa baik teori-teori sifat kepemimpinan maupun teori-teori perilaku kepemimpinan memiliki kelemahan yang sama, yaitu mengabaikan peranan penting faktor-faktor situasional dalam menentukan efektifitas kepemimpinan, kemudian muncul teori-teori kepemimpinan situasional (situational theories). Dari pengembangan kelompok teori yang terakhir ini, maka terjadi perubahan orientasi dari ‘one best way leading’ menjadi ‘context-sensitive leadership’. Jika ditelusuri lebih lanjut, perkembangan ketiga teori kepemimpinan tersebut tidak dapat dipisahkan dari paradigma riset kepemimpinan. Menurut House dan Aditya (1997), secara umum paradigma riset kepemimpinan dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu paradigma sifat kepemimpinan (the leadership trait paradigm), paradigma perilaku pemimpin (the leader behavior paradigm) dan paradigma baru yang disebut juga dengan paradigma karismatik baru (the neocharismatic paradigm). Menurut Kuhn, 1970 (dalam Gioia dan Pitre, 1990), paradigma adalah suatu persepektif umum atau cara pandang yang mencerminkan asumsi atau keyakinan mendasar tentang sifat dasar organisasi. Jadi paradigma riset yang berbeda tidak hanya membedakan teori, pendekatan, metode atau teknik analisis yang digunakan, namun lebih dari itu, di dalamnya terdapat perbedaan nilai dan filosofi yang sangat mendasar.