1 OPTIMALISASI WAKTU TEMPUH BUS TRANS JAKARTA KORIDOR 1 BLOK M KOTA DITINJAU DARI INFORMASI WAKTU ULANG APILL TRAVEL TIME OPTIMALIZATION OF TRANS JAKARTA BUSSES CORRIDOR 1 BLOK M KOTA BASE ON CYCLE TIME TRAFFIC LIGHT INFORMATION Ruben Sihombing Mahasiswa Fakultas Teknik, Departemen Teknk Sipil Universitas Indonesia Abstract Bus Rapid Transit (BRT) also known as one of the solution which can provide good public transportation service in urban area like Trans Jakarta. The travel time of busses influnce their capacity which the traffic light systematizing is one of the factors that can affect travel time. The study of Trans Jakarta busses average speed which operated in first corridor (Blok M-Kota) has been done with surveys and data gathering from related institution. All of the data was processed and presented in a form of graphic, with trial and error method, so the busses travel graphic can be obtain. With synchronization in departure time, speed of busses, and green time so the travel time of busses can be optimalize to 37 minutes and 42 seconds which is more faster 19.3 % from the actual travel time and can avoid delay that is caused by red light which can affect 18.04% from the travel time. Keywords: BRT, travel time, optimalization PENDAHULUAN Pada Desember 2007 kendaraan bermotor di DKI Jakarta sekitar 5,7 juta unit. Dari jumlah itu, sebanyak 98,5% (5.614.500 unit) merupakan kendaraan pribadi dan hanya 1,5% (85500 unit) angkutan umum. Dari 98,5% kendaraan hanya melayani 44% perjalanan. Sedangkan angkutan umum yang hanya 1,5% justru melayani 53%[1]. Bus Rapid Transit (BRT) yang dikenal dengan Trans Jakarta adalah sistem moda transportasi yang diharapkan dapat memberikan jalan keluar dalam masalah angkutan umum di Jakarta. Agar dapat melayani penumpang lebih baik, BLU memerlukan anggaran sebesar Rp. 750.000.000.000,00 per tahun untuk meningkatkan head way menjadi 2 menit sampai dengan 3 menit[2], dan DPRD DKI telah menganggarkan kurang lebih Rp. 25.000.000.000,00 pada tahun 2007 untuk penerapaan metode ATCS ( area traffic control system ) namun tidak dilaksanakan[3]. Penumpukan bus Trans Jakarta pada shelter dan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), membuat kapasitas bus tidak optimal karena terdapat bus yang tidak maksimal mengakomodir jumlah ruang untuk penumpang. Permasalahan difokuskan pada infrastuktur pendukung Trans Jakarta yang ditinjau dari informasi yang didapat dari APILL, dan waktu naik turun penumpang pada halte. AREA STUDI DAN TANTANGAN PENELITIAN Koridor 1, Blok M-Kota menjadi objek observasi untuk mengoptimalisasikan waktu tempuh bus Trans Jakarta. Pemilihan koridor I dikarenakan koridor I adalah koridor dengan kapasitas pelayanan terbesar. Ini terbukti dari data bulan Mei 2009, koridor I melayani rata-rata 70.956