285 MEMBANGUN KARAKTER MELALUI SISTEM KONTROL SOSIAL : SEBUAH REVIU FENOMENOLOGIS Eny Purwandari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Abstrak Fenomena penyimpangan perilaku yang kasat mata dan terjadi setiap hari membentuk keprihatinan. Jumlah pelanggaran lalu lintas, korban mutilasi, kriminalitas anak, penyalahguna napza yang semakin meningkat, tawuran, aborsi, dan bentuk lain dari berbagai setting, usia, jenis kelamin, bahkan profesionalitas menambah keterpurukan bangsa ini. Peran kontrol sosial sangat dibutuhkan untuk membangun dasar yang mengarahkan perilaku dalam mencapai tujuan, yaitu karakter. Reviu ini berdasarkan dari konsep mikrosistem, yaitu keluarga, sekolah, media dan masyarakat sebagai kontrol sosial, yang terdiri dari keterikatan, keterlibatan, komitmen, dan “belief”. Kata kunci : karakter, kontrol sosial, attachment, keterlibatan, komitmen, belief, norma FENOMENA Peristiwa, berita, dan informasi yang berkaitan dengan dekadensi moral setiap hari menjadi konsumsi publik yang bukan rahasia lagi. Kasus bolos sekolah, baca buku porno, melihat film porno, kebut-kebutan yang berujung tabrak lari, tawuran pelajar, perkelahian antara kampung, narkotika, pencurian, minuman-minuman keras, mutilasi, penculikan, aborsi, sampai korupsi, dan bentuk lainnya. Angka aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta/tahun dengan pelaku kisaran usia 20 – 29 tahun. Aborsi bertentangan dengan Undang-Undang N0 23/1992 tentang kesehatan dan faatwa MUI No 4/2005 (okezone.com, Minggu, 24 Februari 2008). Selain itu gambaran kasus yang diperoleh dari survey yang dilakukan penulis pada bulan Oktober 2010 di kota Sragen sebanyak 182 siswa SMP dan SMA diperoleh hasil 51,1% berbohong; 39% apabila pergi dari rumah tanpa pamit; 28,5% keluyuran; 7,6% sering membolos; 8,7% melakukan pemalakan; 4,8% berkelahi; 7,6% terlibat gang; 7,1% nonton film porno; 19,7% kebut- kebutan; 10,4% pernah mencuri; 14,1% pernah berjudi dengan 1% nya sering melakukan judi; 5,4% pernah minum-minuman keras; 1,1% melakukan aborsi dan 1,1% memakai narkoba. Fenomena lain, jumlah penyalahgunaan narkoba yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa mencapai 1,6 juta jiwa yang berarti hampir 30 % dari jumlah penyalahgunaan narkoba yang ada di Indonesia yaitu 3,2 juta jiwa. Presentase penyalahguna setahun terakhir adalah 1 juta orang dengan sebaran pelajar SLTP 35% sampai 40%, pelajar SLTA 35 % dan mahasiswa 20% sampai 25 %. Hasil survei 2006 menunjukkan bahwa di antara