57 TEKNIK BUDI DAYA VARIETAS BARU KENAF DI LAHAN BONOROWO, PODSOLIK MERAH KUNING, DAN GAMBUT Budi Santoso *) PENDAHULUAN Pengembangan kenaf (Hibiscus cannabinus L.) di lahan bonorowo atau banjir musiman berjalan sejak tahun 1978 sampai tahun 1990. Pada saat itu yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai pengelola adalah PT Perkebunan XVII, yang wilayahnya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. PT Perkebunan XVII mempunyai pabrik karung goni di Jepara, Delanggu, dan Ngagel Surabaya. Seiring dengan kemajuan bahan pengemas hasil-hasil pertanian berupa karung plastik maka karung goni tidak kompetitif lagi, di samping harganya lebih mahal juga sulit untuk didapat di pasaran. Aki- batnya ketiga pabrik karung goni tersebut tidak beroperasi lagi, dan petani serat kenaf, beralih ke usaha tani komoditas lain seperti jagung, kedelai, tebu, kacang hijau, dan padi. Pada tahun 2000, PT Abadi Barindo Autotech (ABA) yang berada di Purwodadi, Pasuruan membutuhkan serat alam yang berasal dari kenaf. PT ABA membentuk anak pe- rusahaan yang bernama PT Global Agrotek Nusantara (GAN) yang bergerak di bidang khusus serat. Daerah pengembangannya adalah bekas wilayah kerja PT Perkebunan XVII di Kabupaten Lamongan, terutama di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Luas areal pertanaman sekitar 2.500 sampai dengan 3.000 hektar. Jenis tanah tergolong alu- vial, berstatus lahan bonorowo atau lahan banjir musiman. Serat kenaf yang dibutuhkan bukan untuk karung goni, tetapi dimanfaatkan untuk dashbord dan interior mobil. Meng- ingat kegunaan serat berbeda maka kualitas serat yang diperlukan oleh PT ABA hanya kualitas super A dan A. Di samping itu PT ABA juga mengembangkan kenaf di lahan podsolik merah ku- ning (PMK) dan lahan gambut di Kalimantan Timur. Untuk lahan PMK, PT ABA memi- liki hak guna usaha seluas 500 hektar yang berada di Desa Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tipikal lahan PMK dan gambut adalah sangat berbeda. Lahan PMK miskin unsur hara makro, mikro, pH rendah, sering terjadi keracunan Al dan Fe, fraksi didominasi oleh pasir dan curah hujan tinggi, tetapi waktunya pendek hanya 6– 7 bulan (Santoso et al., 2004). Sedang ciri-ciri lahan gambut adalah kaya akan bahan or- ganik, kahat unsur mikro (Zn, Cu, dan Mn), tetapi pH tanah rendah dan sering terjadi ge- *) Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang