Draft awal, masih disempurnakan 1 Pengkafiran di Era Pemikiran: Matinya Kebebasan dan Akal-Pikiran Luthfi Assyaukanie Saya ingin memodifikasi judul bukunya Nasr Hamid Abu Zayd, “Pemikiran di Era Pengkafiran” menjadi “Pengkafiran di Era Pemikiran.” Dalam bahasa Arab, judul buku pemikir terkenal Mesir ini terdengar lebih puitis, yakni al-tafkir fi zaman al-takfir. Kata “fikr” dan “kufr” memiliki jumlah dan jenis huruf yang sama, hanya dibedakan oleh posisi huruf kaf. “Fikr” artinya pemikiran dan “kufr” artinya kekafiran atau kekufuran. Alasan utama Abu Zayd memberi judul bukunya seperti itu karena ia melihat bahwa pengkafiran di Mesir kini sedang menjadi tren. Sementara di belahan dunia lain, manusia berlomba-lomba menggunakan akal-pikiran mereka untuk meraih kemajuan, di Mesir, menurut Abu Zayd, kaum Muslim berlomba-lomba mengkafirkan saudara-saudara mereka yang berpikir. Bagi banyak orang di negara maju, abad ke-20 (dan juga ke-21) adalah era pemikiran (dan bukan pengkafiran), karena akselarasi kemajuan umat manusia terjadi begitu luar biasa pada masa ini. Boleh dibilang, seluruh pencapaian penting yang kita nikmati sekarang, dari mobil, motor, pesawat terbang, hingga komputer dan internet, adalah produk abad ke-20. Abad ke-20 adalah abad pemikiran, karena semua pencapaian teknologi yang dihasilkan pada masa ini merupakan produk zaman ini. Abad ke-20 (dan juga abad ke-21) adalah era kemenangan rasionalitas dan pemikiran. Di dunia Barat, pengkafiran boleh dibilang sudah selesai. Kalaupun ada, itu adalah kasus khusus dan tak pernah lagi menjadi isu sentral. Hanya sekelompok “fundamentalis” yang keberatan, misalnya, dengan novel Dan Brown, The Da Vinci Code. Kebebasan berekspresi dan berpendapat benar-benar dijaga dan dijunjung tinggi, kecuali pada kasus- kasus khusus, yang tidak secara langsung terkait dengan pemikiran keagamaan. 1 Di negara-negara Muslim, pengkafiran tak pernah berakhir, bahkan kini ada kecenderungan semakin menguat. Sejak Khomeini mengeluarkan fatwa mati untuk Salman Rushdi pada awal tahun 1980-an, kebebasan berpikir menjadi sesuatu yang menakutkan di dunia Islam. Faraj Fouda, Naguib Mahfudh, Nawal Disampaikan pada “Nurcholish Madjid Memorial Lectures,” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK), Universitas Paramadina, Jakarta, 2o Juli 2006. Luthfi Assyaukanie adalah dosen di Universitas Paramadina dan peneliti di Freedom Institute. Ia memperoleh PhD dalam bidang Studi-Studi Islam dari The University of Melbourne, Australia. Makalah ini bisa didownload di: (http://www.assyaukanie.com). 1 Misalnya pelarangan penggunaan simbol-simbol yang berkaitan dengan Nazi di Jerman.