Fonologi Bahasa Kui oleh Marcelinus Y.F. Akoli 1. Pengantar : bahasa Kui sebagai sebuah bahasa non-Austronesia 1.1 Distribusi dan klasifikasi bahasa non-Austronesia Kesan penulis pada saat pertama melakukan riset terhadap bahasa Kui sebagai sebuah bahasa non-Austronesia menghasilkan suatu ketertarikan intelektual yang besar terhadap eksistensi bahasa-bahasa non-Austronesia itu sendiri. Betapa tidak, rumpun bahasa-bahasa Papuan (sebutan lain untuk bahasa non-Austronesia) merupakan sebuah pesona linguistik-antropologis yang secara geografis terbentang dari kepulauan Halmahera di Maluku Utara dan Pulau Timor,Indonesia hingga ke kepulauan Salomon di bagian timur yang secara geopolitis menjadi bagian dari Papua Nugini (Aikhenvald & Stebbins,2007:239). Maka, kehadiran penutur bahasa- bahasa non-Austronesia ini sebenarnya terdapat dalam kawasan geopolitik yang berbeda yaitu Indonesia dan Papua Nugini. Selanjutnya, menurut Aikhenvald dan Stebbins (2007,239), terdapat 900an bahasa non-Austronesia yang terdapat dalam kawasan geografis yang terbentang sepanjang 900.000 km² itu. Klasifikasi bahasa non-Austronesia itu sendiri masih mengandung perdebatan. Barangkali perdebatan akan taksonomi bahasa non-Austronesia yang patut diperhatikan adalah yang terjadi diantara Stephen Wurm (1982) dan Malcolm Ross (2005). Wurm membagi bahasa non-Austronesia secara genetik atas 16 keluarga bahasa yang secara detail dapat dirumuskan sebagai berikut ; keluarga bahasa Amto Musan (2 bahasa), keluarga bahasa Burmeso (bahasa isolat), keluarga bahasa Busa (bahasa isolat), keluarga bahasa Kepala Burung Timur (3 bahasa), keluarga bahasa Papua Timur (36 bahasa), keluarga bahasa Teluk Geelvink (12 bahasa), keluarga bahasa Yuri (bahasa isolat), keluarga bahasa Porome (bahasa isolat), keluarga bahasa KwomtariBaibai (6 bahasa), keluarga bahasa Mai kiri (7 bahasa), keluarga bahasa SepikRamu (104 bahasa), keluarga bahasa Sko (7 bahasa), keluarga bahasa Torricelli (48 bahasa), keluarga bahasa Trans-Nugini (598 bahasa), keluarga bahasa Papua barat (26 bahasa), keluarga bahasaYale (bahasa isolat). Sayangnya, menurut Ross (2005), klasifikasi yang dibuat oleh Wurm cenderung tidak memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kontak bahasa dengan bahasa Austronesia. Buktinya, beberapa bahasa yang diklasifikasikan Wurm sebagai rumpun keluarga bahasa Trans-Nugini justru tidak memiliki kesamaan leksikal dengan kebanyakan bahasa dalam keluarga bahasa Trans-Nugini tersebut. Bahkan, beberapa bahasa dalam keluarga bahasa tersebut justru memiliki kesamaan gramatikal dengan bahasa Austronesia yang bertetangga dengan bahasa-bahasa non-Austronesia. Karena itu, klasifikasi yang dibuat Ross (2005) terlihat cukup mendetail dengan berbasis pada kata ganti atau pronomina yang tersebar diantara bahasa-bahasa non-Austronesia itu. Hasilnya, klasifikasi bahasa yang dibuat oleh Ross mengemukakan 23 keluarga bahasa dan 9 sampai 13 bahasa isolat. Di masa ini, klasifikasi yang dibuat oleh Ross banyak diakui oleh para ahli. Buktinya, Ethnologue sebuah situs bahasa- menggunakan kalkulasi Ross sebagai petunjuk dalam melansir jumlah bahasa-bahasa non-Austronesia. Diantara poin-poin perdebatan antara Wurm dan Ross, kedua ahli bahasa tersebut tampaknya sepakat akan eksistensi keluarga bahasa Papua Barat dengan 26