Teman Sejati Dewi Ratnawati Setiap hari Alif harus bangun pagi. Dia yang masih duduk di kelas lima SD harus mengurus dirinya sendiri. Sejak ayahnya meninggal, ibunyalah yang harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibunya berjualan sayur-mayur di rumah. Waktu ayahnya meninggal, Alif masih duduk di kelas satu SD. Ibu pulang dari pasar saat Alif hendak berangkat ke sekolah. Setelah berpamitan, Alif pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. “Rafi, tunggu aku. Aku membonceng sepedamu ya!” teriak Alif sambil berlari mendekati Rafi. “Baiklah, yuk,” sahut Rafi. Rafi memang anak yang beruntung. Ayahnya seorang dosen. Ibunya guru sekolah TK. Dia anak yang pandai. Setiap kali ulangan nilainya pasti bagus. Dia juga selalu baik pada siapa saja, sehingga semua teman suka padanya. “Hai, Alif, lihat tasmu, punya jendela ternyata,” seru Edo sambil terbahak menertawakan tas Alif yang sudah berlubang. Spontan teman-teman yang ada di kelas melihat ke arah Alif yang baru datang. Ada yang merasa kasihan, ada juga yang ikut-ikutan menertawakan Alif. “Tenang saja Lif, tak perlu kau pedulikan kata-kata Edo. Dia memang suka begitu pada siapa saja,” Rafi mencoba menghibur Alif.