Eksistensi Gendang Makassar; Alat Musik Tradisional sebagai Wahana Pemersatu Bangsa JETRANAS 2013-BPNB Tanjung Pinang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Bentangan 13.466 pulau-pulau dengan ± 1.340 suku bangsa telah menjadikan negara Indonesia kaya akan keanekaragaman budayanya. Hal ini jelas menunjukkan Indonesia, seharusnya telah berbenah diri menghadapi kompetisi pesatnya arus globalisasi. Apabila tidak diantisipasi, nantinya aspek globalisasi yang mendunia akan mengoyak nilai-nilai tradisi dan budaya secara membabi buta. Sebagai pemegang estafet bangsa, generasi muda sedikit-banyak telah turut dalam pelunturan tradisinya sendiri. Tentunya hal ini sangat disayangkan jika suatu saat lost tradition dan lost culture benar secara nyata melanda bangsa Indonesia. Salah satu kekayaan budaya negeri ini yang mengalami kelunturan keberadaannya adalah alat musik tradisional. Adanya hitam tentunya tanpa meniadakan putih. Adanya pihak peluntur tradisi tentu juga adanya pihak pelestari tradisi. Realita membuktikan, Makassar merupakan tempat yang menjadi saksi bisu eksistensinya sebuah alat musik tradisional. Gendang Makassar, keberadaanya dari zaman kerajaan hingga sekarang tetap lestari. Hal ini dikarenakan ada sebuah sikap menganggap sebuah budaya adalah wadah pemersatu. Jika ada gendang bermain, masyarakat berduyun pula untuk melihat dan menikmatinya. Jelas hal ini merupakan kajian yang sangat menarik untuk diangkat dan dibahas. Adapun judul pembahasan dari penulis adalah “Eksistensi Gendang Makassar; Alat Musik Tradisional sebagai Wahana Pemersatu Bangsa”. Daerah Makassar sendiri, terdapat seorang tokoh pemerhati budaya sekaligus maestro gendang yakni Bapak Daeng Serang Dakko. Beliau menuturkan, “…sebagai penerus kebudayaan kita harus terus berusaha mengembangkan dan melestarikan eksistensi kebudayaan daerah kita masing- masing”.