ar si t ekt ur e- Jour nal , Vol ume 1 Nomor 3, November 2008 145 PELESTARIAN KAWASAN EKS PUSAT KOTA KOLONIAL LAMA SEMARANG Perawati Kesuma Dewi, Antariksa, Surjono Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jl Mayjend Haryono No, 167 Malang 65145 - Telp. (0341) 567886 E-mail: im_inDpendent@yahoo.com ABSTRAK Kawasan Kota Lama Semarang merupakan cikal bakal terbentuknya Kota Semarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan kekhasan kawasan dilihat dari aspek fisiknya. Pergeseran fungsi kawasan dari pusat pemerintahan pada masa kolonial Belanda menjadi kawasan mati saat ini merupakan hal yang melatarbekalangi studi ini. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik fisik (guna lahan, bangunan kuno, sirkulasi dan parkir, serta ruang terbuka) dan non fisik (sosial, ekonomi, budaya, hukum, konsep rencana, organisasi serta pendanaan) yang membentuk kawasan Kota Lama, serta mengevaluasi kinerja kegiatan pelestarian yang telah dilaksanakan di kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif untuk mengetahui karakteristik fisik dan non fisik kawasan Kota Lama; dan metode evaluatif untuk mengevaluasi kinerja kegiatan pelestarian dengan importance performance analysis dan penilaian makna kultural. Hasil studi menunjukkan bahwa kinerja pelestarian yang harus diprioritaskan dalam penanganannya adalah sirkulasi dan parkir serta ruang terbuka (fisik), dan sosial, ekonomi, budaya, hukum, organisasi serta pendanaan (non fisik). Bangunan kuno yang termasuk potensial tinggi berjumlah 20 bangunan, potensial sedang berjumlah 24 bangunan, dan potensial rendah berjumlah 49 bangunan. Kata kunci: pelestarian, bangunan kuno, kinerja, kawasan Kota Lama ABSTRACT Semarang Old city district is the first beginning of Semarang City which have high historical value and unique area based on its physical aspect. Transitioned its area function from centre of government in Dutch colonial era be a death area is a thing that motivate this study. The purpose of this study is to identification physical (land use, old-fashioned building, circulation and park, and open space) and non physical (social, economic, culture, law, concept of plan, organization, and funding) characteristics of Semarang Old City that shaped Semarang Old City district, and also to evaluate progress conservation activities that have been applied on that district. Methods that be used in this study are descriptive method to know physical and non physical characteristics of Semarang Old City; and evaluative method to evaluating progress conservation activities with importance performance analysis (IPA) and cultural sense scoring. The result of this study show that progress conservation that must be priority on application is circulation and park; and open space (for physical characteristics), and social, economic, culture, law, organization, and also funding (non physical characteristics). The old-fashioned building that counted to high potential are 20 buildings, medium potential are 24 buildings, and low potential are 49 buildings. Key word: conservation, old-fashioned building, progress, Old City district Pendahuluan Kota yang baik adalah kota yang memiliki kenangan tahapan pembangunan. Dalam perkembangannya, kota-kota tersebut berkembang meninggalkan embrio (pusat) kotanya. Dengan adanya perkembangan tersebut, kawasan-kawasan yang berada di luar pusat kota menjadi kawasan yang lebih berkembang daripada pusat kotanya. Oleh karenanya, pusat kota yang merupakan kawasan bersejarah cenderung ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian. Kwanda (2004) juga mengemukakan bahwa pusat-pusat kota merupakan lingkungan buatan yang sangat berharga, karena mereka adalah bagian