KERUGIAN EKONOMI ……..(28) :313-320 Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 28, Edisi Desember 2009 313 KERUGIAN EKONOMI AKIBAT INFESTASI RAYAP PADA BANGUNAN PERUMAHAN (STUDI KASUS DESA GANDASULI, BOBOTSARI, PURBALINGGA, JAWA TENGAH) Oleh TEGUH PRIBADI Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas PGRI Palangka Raya ABSTRACT Termites are important home building pest in Indonesia. Termite infestation cause seriously damages on building components, especially in residence area. However, investigations to access their economic impact on suburban residence remain poor studied. This study was conducted to know damage building level and economic impact cause termite infestation on residence building of suburban area. Inspection of residence building was executed in Gandasuli, Purbalingga District. Termite infestation was calculated based on ratio total of damage wood volume with total of wood volume from building components respectively. Economic impact value was estimated by termite infestation level times with price of building components. Result of investigation found all of home buildings in Gandasuli have been experienced termite infestation. Termite infestation caused damage building 5.70 % level. Termite infestation have been caused damage of building components reach 18.09 % level from all of building components come from woods materials. Most seriously damage in building components were door and window frames. Subterranean termites were termite groups caused seriously damage on building components. Termite infestation caused economic impact in building might exceed Rp. 11,401,528.92,-. Termite control to prevent damage in building components must apply before and after building construction, especially on building components near ground surface. Key words: Termite infestation, economic impact, building components, suburban area Penulis untuk korespondensi : Jalan Hiu Putih-Tjilik Riwut Km. 7 Palangka Raya, Kode Pos 73112, Telp +6236 3220778, Fax +6236 3224409, email tgpribadi@gmail.com PENDAHULUAN Tekanan terhadap lahan untuk dialihfungsikan menjadi areal pemukimanan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, semakin intensif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 1990 laju pertambahan jumlah perumahan di Indonesia adalah sebesar 2,4 % tiap tahunnya (Nandika et al. 2003). Fenomena ini menimbulkan efek limpasan yang merugikan bagi eksistensi perumahan tersebut. Salah satunya, adalah meningkatnya kerawanan infestasi rayap pada bangunan perumahan. Perubahan peruntukan lahan dari ekosistem yang mantap (hutan) menjadi areal dengan peruntukan baru yang bersifat homogen, seperti perkebunan atau pemukiman, memperparah tingkat infestasi rayap tanah. Habitat yang mengalami penurunan derajat kompleksitas ekosistem berdampak pada peningkatan preferensi infestasi rayap (Bakti 2004). Perubahan ini mengakibatkan perubahan perilaku makan rayap, dengan mengkonsumsi kayu (bahan berselulosa) yang bukan merupakan makanan umum dikonsumsi rayap. Kerentanan bangunan terhadap infestasi rayap juga diperparah dengan faktor material konstruksi bangunan tersebut, terutama material berupa kayu. Sebagian besar perumahan di Indonesia menggunakan kayu sebagai bahan konstruksi umumnya berasal dari kayu dengan kualitas rendah (kelas awet V – III). Hal ini merupakan dampak semakin menyusutnya jumlah kayu dengan keawetan yang tinggi yang