Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Multiple Intelligences (IESQ) Sebagai Grand Desain Pendidikan Emas Indonesia 2045 Oleh : Abd. Gafur Bapak Lastiko Runtuwene, S.Ag, M.Pd dalam makalahnya yang berjudul Kebijakan Reformasi Pendidikan Indonesiamengatakan, pendidikan pada dasarnya adalah bagian integral dari hidup manusia sehingga tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan hidup manusia. Sejak dalam kandungan, lahir dan selama hidup, manusia membutuhkan pendidikan (long life education). Pendidikan sangat berperan dalam pembentukan pribadi manusia dalam kaitannya untuk pengembangan secara individual, kelompok, masyarakat dan bangsa. Akan tetapi dalam realitas dewasa ini, khususnya dalam lingkup bangsa Indonesia, di satu pihak kita melihat perkembangan- perkembangan yang cukup berarti di bidang pendidikan, di pihak lain kita menyaksikan dengan kasat mata terdapat sejumlah keprihatinan dalam dunia pendidikan Indonesia. Secara praktis, kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia dewasa ini mengalami banyak tantangan dan masalah. Di antaranya para lulusan (output) yang tidak berkualitas dan kesejahteraan para tenaga kependidikan yang kurang memadai (Suparno, et.al., 2002:9). Pada dasarnya kegelisahan tentang penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sudah sejak lama dikhawatirkan. Winarno Surachmad pada Seminar Internasional Pendidikan dan Pertemuan FIP-JIP se-Indonesia di Bukittinggi tgl 12-14 September 2005 dalam rangka Dies Natalis UNP ke-51 karena kegelisahan beliau sampai menulis judul makalah yang kontroversial: ”Mendidik Memang tidak Memerlukan Ilmu Pendidikan” (Laporan Kegiatan Seminar Internasional Pendidikan: 2005:1). Dari paparannya, memperlihatkan beliau sudah sampai pada tingkat klimaks kegalauan melihat penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang mengabaikan ilmu pendidikan. Pernyataan tersebut sebenarnya juga menekankan bahwa pendidikan hendaknya tidak lagi hanya memfokuskan diri pada segi kognitif (misalnya Nilai Ebtanas Murni) yang lebih mengembangkan Intelligence Quotient (IQ), tetapi juga kecerdasan secara majemuk, yakni Multiple Intelligences (MI) oleh H. Gardner (1983), Emotional Intelligences (EI) oleh Daniel Goldman (1994), Spiritual Intelligence (SI) oleh Danah