29 Volume 3 METAHUMANIORA Halaman 2941 Nomor 1 April 2013 NGAROT DAN RAMÉ: ENTITAS KETUBUHAN BUDAYA PETANI LELEA INDRAMAYU Aton Rustandi Mulyana 1 Timbul Haryono 2 G.R. Lono Lastoro Simatupang 3 ABSTRAK Tulisan ini membahas mengenai dua gejala emik, yaitu ngarot dan ramé. Di antara keduanya, ada tiga hal yang dipersoalkan, yaitu (1) mengapa ngarot harus ditampilkan dengan ramé?, (2) apakah gejala tersebut hanya sebatas ekspresi hiburan saja?, dan (3) ataukah sebuah cara mereka mengungkapkan pengetahuan budaya mereka yang tersembunyi? Adapun piranti jawabannya digunakan pendekatan fenomenologis sebagai sebuah studi memahami pengalaman manusia dan memahami fenomena. Dalam pendekatan ini, posisi tubuh merupakan hal yang utama. Pertautan antara manusia dan dunia diawali dan diperantarai pertama kali bukan melalui pikirannya, melainkan melalui tubuhnya, dan makna teks dibentuk di dalam dan bersama konteks. Melalui ngarot dan ramé, kehidupan dan budaya petani Lelea diekspresikan sebagai sebuah pengalaman diri dan budaya. Keduanya menjadi bagian dan berada di antara tahap-tahap dari siklus kegiatan pertanian yang berhubungan dengan musim, khususnya musim penghujan yang pada saat itu air menjadi sesuatu yang sangat bermakna dan keberlimpahannya perlu dirayakan dengan suka cita. Kata kunci: ngarot, ramé, fenomologi, ketubuhan ABSTRACT This paper discusses the two emic symptoms; ‘ngarot’ and ‘ramé’. There are three things asked: (1) why is ‘ngarot’ displayed with ‘rame’? (2) is it limited to the expression of any entertainment? or (3) is it a way of expressing their hidden cultural knowledge? The answering device is the phenomenological approach as a study to understand the human experience and the phenomenon. In this approach the position of the main body is the most important. The engagement between the people and the world was rst initiated and mediated not through his mind, but through his body, and was formed within the meaning of the text and context together. Through his ‘ngarot’ and ‘ramé’, a farmer’s cultural life in Lelea is expressed as an experience of self and culture. Both are a part and exist in between the stages of the cycle of agricultural activities associated with the seasons, especially in the rainy season, which means the water becomes very signicant and it should be celebrated with joy. Keywords: ngarot, ramé, phenomenology, body 1 Staf pengajar di ISI Surakarta, kandidat doktor di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan UGM. 2 Staf pengajar UGM 3 Staf pengajar UGM