Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2014 (SNIPS 2014) 10 dan 11 Juni 2014, Bandung, Indonesia ISBN xxx-x-xxxx-xxxx-x 1 Perbedaan Kemampuan Self-efficacy Mahasiswa Antara Model Problem- Based Learning dengan Model Ekspositori pada Mata Kuliah Evolusi Rizkia Suciati Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kemampuan kemampuan self-efficacy mahasiswa antara model Problem-Based Learning dengan model ekspositori pada mata kuliah Evolusi. Metode penelitian ini adalah kuasi-eksperimen, dengan menggunakan Posttest-only Control Group Design. Populasi target adalah seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP UHAMKA Jakarta, dan sampel adalah mahasiswa semester VII sejumlah 65 orang yang terbagi dalam 2 kelas, model PBL sebagai kelas eksperimen dan model ekspositori sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan Nonprobability sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket untuk mengukur kemampuan self- efficacy mahasiswa. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji perbedaan dua rata-rata (uji Independent sample t-Test), respon jawaban atas pernyataan self-efficacy dianalisis per butir pernyataan dan dihitung dalam bentuk persentase. Analisis statistik dibantu dengan software IBM SPPS Staistic 19.0 for Windows dan Microsoft Excell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Kemampuan self-efficacy mahasiswa pada kelas eksperimen dikategorikan dalam level cukup dan tinggi, sedangkan pada kelas kontrol dikategorikan dalam level kurang, cukup, dan tinggi. Indikator self-efficacy yang paling baik direspon oleh mahasiswa dari kedua kelas adalah mastery experiences, dan yang kurang direspon adalah vicarious experiences dan social/verbal persuation. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan self-efficacy antara mahasiswa yang pembelajarannya menggunakan model PBL dengan model ekspositori. Kata-kata kunci: Self-efficacy, PBL, Ekspositori, Evolusi Pendahuluan Pembelajaran evolusi seringkali berlangsung tidak sebagaimana mestinya. Sejumlah guru biologi di kota Malang dan luar kota Malang mengalami beberapa kendala dalam pembelajaran Evolusi, diantaranya adalah materi yang diajarkan masih belum menggunakan pendekatan-pendekatan keilmuan yang dapat mendukung pemahaman Teori Evolusi yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini [1] . Berdasarkan pengalaman dan observasi penulis, pembelajaran evolusi masih menggunakan model pembelajaran yang cenderung konvensional dan kurang melibatkan keaktifan dari peserta didik, mereka merasa materi evolusi sangat sulit dipahami sehingga mereka malas untuk mencari tahu akan kebenaran dan perkembangan dari teori evolusi. Di tahun 2009, hasil belajar mahasiswa UHAMKA kurang maksimal dan sikap mahasiswa cenderung netral (acuh) terhadap perkuliahan evolusi dengan metode konvensional [2] . Keengganan mereka untuk mencari informasi berdampak minimnya kemampuan rasa percaya diri mereka dalam menuntaskan masalah nyata seputar fakta dan perkembangan dari teori evolusi tersebut. Menyikapi perkembangan teori evolusi di masa sekarang serta berupaya memunculkan rasa percaya diri dalam menyelesaikan masalah evolusi adalah dengan membelajarkan teori evolusi melalui pendekatan-pendekatan yang bersifat konstruktivistik. Dan salah satu model pembelajaran yang diduga tepat untuk mempelajari perkembangan teori evolusi adalah model pembelajaran PBL (Problem Based- Learning). PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap- tahap metode ilmiah [3] , sehingga penerapan PBL diharapkan mampu membuka pemahaman dan pemikiran yang terbuka pada siswa untuk menjawab rasa penasarannya tentang kebenaran teori evolusi dan juga melatih kepercayaan diri meraka dalam menyelesaikan masalah seputar perkembangan teori evolusi tersebut. Teori Istilah self-efficacy atau efikasi diri pertama kali dimunculkan oleh Albert Bandura (1986) yang mendefinisikan self-efficacy sebagai sebuah pertimbangan subjektif individu terhadap kemampuannya untuk menyusun tindakan yang