Kerangka Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Terhadap Timur Tengah Pasca Arab Spring Danial Darwis Mahasiswa Magister pada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fisipol, Universitas Gadjah Mada Email : danial.darwis@gmail.com Abstrak Tulisan ini merupakan sebuah paper yang akan memberikan penggambaran mengenai kerangka bangunan kebijakan luar negeri dari negara Amerika Serikat terhadap kawasan Timur Tengah setelah peristiwa Arab Spring. Fokus dari tulisan ini berusaha untuk melihat tentang bagaimana kebijakan luar negeri Amerika Serikat pasca Arab Spring disusun dalam rangka mempertahankan kepentingannya di kawasan Timur Tengah, mengingat Amerika Serikat mempunyai beberapa kepentingan di Timur Tengah baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun militer. Tulisan ini juga akan mengeksplorasi mengenai eksistensi Islam sebagai sebuah ancaman bagi Amerika Serikat pasca peristiwa Arab Spring, mengingat selama ini terjadi sebuah dilema dalam politik luar negeri Amerika Serikat dalam kaitannya dengan hubungan yang terjalin dengan pihak Islam Politik, dimana terdapat pandangan-pandangan yang berbeda dari para pembentuk opini serta akademisi terhadap Islam Politik yang pada akhirnya membentuk dua buah kubu di panggung intelektualitas Amerika Serikat mengenai Islam Politik, yakni kubu konfrontasionalis yang menginterpretasikan Islam sebagai “Musuh Baru” dan ancaman yang bersifat monolitik dengan berdasar pada aspek ideologi, budaya, dan sejarah. Sementara di sisi lainnya adalah kubu akomodasionis yang menginterpretasikan Islam sebagai “Tantangan Baru” dan ancaman yang tidak monolitik melainkan sebuah dunia Islam yang lebih terkotak dan terpilah dengan berdasar pada aspek politik dan pertahanan-keamanan. Pada bagian akhir dari tulisan ini juga akan disinggung terkait tentang prospek kebangkitan Islam di Timur Tengah pasca Arab Spring. Kata-kata Kunci : Kebijakan Luar Negeri, Amerika Serikat, Timur Tengah, Arab Spring Pendahuluan Selama penghujung tahun 2010 sampai tahun 2011, bahkan ada yang mencapai hingga tahun 2012 dan terus berlanjut hingga tahun 2013, kawasan Timur Tengah mengalami sebuah pergolakan politik yang luar biasa, selanjutnya dikenal dengan peristiwa “Arab Spring” (Musim Semi Arab). Musim Semi Arab merupakan suatu istilah yang muncul untuk memberikan sebuah gambaran mengenai bergugurannya satu demi satu penguasa-penguasa diktator di kawasan Timur Tengah yang diidentikkan dengan bergugurannya daun-daun pohon satu per satu pada saat musim semi tiba. Suatu proses revolusi yang menjalar dengan begitu cepat serta menggoncangkan stabilitas politik di negara- negara Timur Tengah. Revolusi ini dilakukan oleh rakyat kepada para penguasa mereka dengan membawa pesan yang sama, yaitu menginginkan perubahan secara fundamental terhadap kekuasaan dan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat. Peristiwa Arab Spring ini berawal dari pergolakan rakyat di Tunisia, selanjutnya menyebar ke Mesir, Aljazair, Yaman, Bahrain, Libya dan negara-negara lain di Timur Tengah. 1 Salah satu negara yang masih bergolak dan menjadi sorotan masyarakat internasional hingga saat ini atas jumlah korban jiwa yang sangat banyak dalam proses berjalannya revolusi tersebut serta kecenderungan penggunaan senjata kimia adalah Suriah. Tuntutan rakyat Suriah dimotivasi oleh keberhasilan perjuangan rakyat Tunisia, Mesir dan Libya yang berhasil menuntut mundur rezim otoriter. Tuntutan tersebut merupakan akumulasi dari ketidakpuasan rakyat Suriah terhadap pemerintahan Bashar al Assad yang dianggap otoriter. Bashar al-Assad telah berkuasa sejak tahun 2000, mewarisi kekuasaan ayahnya Hafez al- 1 Apriadi Tamburaka, Revolusi Timur Tengah Kejatuhan Para Penguasa Otoriter di Negara-negara Timur Tengah, Yogyakarta : Penerbit Narasi, 2011, Hal. 9