Seminar Nasional Pemberdayaan Petani Miskin di Lahan Marginal Melalui Inovasi Tekonologi Tepat Guna Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian 220 PERFORMANS KAMBING JAWARANDU PADA LAHAN MARGINAL DI KABUPATEN BLORA Budi Utomo, Tati Herawati dan Djoko Pramono Lab Klepu – BPTP Jawa Tengah ABSTRAK Kajian dilakukan di Desa Ngrawoh Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora yang merupakan lokasi desa yang dijadikan prioritas kegiatan Poor Farmers Income Improvement Through Innovation Project (PFI3P). Kegiatan melalui pendekatan On Farm Clients Oriented Research (OFCOR) dengan melibatkan anggota kelompok "Bakal Dadi". Kooperator sebanyak 5 orang, masing-masing menerima 8 ekor kambing betina dan 1 ekor jantan. Ternak ditempatkan dalam kandang panggung dan kandang disekat untuk memisahkan antara jantan dan betina bunting (betina dicampur dengan pejantan selama dua siklus birahi). Pemberian pakan konsentrat dan hijauan sesuai dengan kebutuhan. Variabel yang diamati : pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, tingkat kebuntingan, tingkat kelahiran, bobot lahir, dan mortalitas. Data dianalisis secara diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kooperator melaksanakan pemeliharaan ternak kambing sesuai teknologi yang diberikan. Perkawinan dengan mencampur pejantan dan betina selama dua siklus birahi menghasilkan 97,5% bunting. Bobot induk kambing waktu dikawinkan pertama kali rata-rata 21,23 kg. Umur kawin rata-rata kurang dari 1 tahun. Tingkat kelahiran induk kambing 90,00 %. Jumlah anak yang dilahirkan sebanyak 53 ekor. Tingkat mortalitas 3,77%. Rata-rata pertambahan bobot badan sebesar 93,5 g/ek/hr untuk induk, untuk anak jantan dan betina yaitu 87,77 g/ek/hr dan 71,04 g/ek/hr. Konsumsi bahan kering pakan ternak kambing induk rata-rata sebanyak 1,37 kg/ek/hr. Potensi hijauan di Desa Ngrawoh cukup mendukung untuk pengembangan ternak kambing mengingat desa tersebut dikelilingi hutan seluas 1396 ha dan 715,03 ha diantaranya berada di wilayah Desa Ngrawoh. Kata kunci : Petani miskin, Kambing Jawarandu, Pakan.dan hijauan. PENDAHULUAN Prioritas pengembangan usaha peternakan rakyat mendapat perhatian pemerintah yang cukup besar, khususnya dalam rangka progam pengentasan kemiskinan dan desa tertinggal. Upaya yang dilakukan adalah melalui pemberdayaan potensi sumberdaya pertanian maupun pemberdayaan terhadap peran-serta masyarakat dan perekonomian rakyat dengan menumbuh-kembangkan agibisnis di pedesaan, serta meningkatkan peranan koperasi maupun keikut-sertaan pihak swasta dengan didukung teknologi maupun infrastruktur yang memadai. Ternak kambing merupakan salah satu jenis ternak yang akrab dengan sistem usahatani di pedesaan dan merupakan komponan peternakan rakyat (Soebandriyo et al., 1995). Distribusi penyebaran populasi relatif merata, kemampuan beradaptasi yang tinggi dengan kondisi agroekosistem setempat merupakan keunggulan komparatif tersendiri. Perkembangan ternak kambing di Jawa Tengah selama kurun waktu 3 tahun terakhir menunjukkan trend perkembangan yang meningkat sebesar 0,17 % yaitu pada tahun 2001, tahun 2002 dan tahun 2003 masing-masing sebanyak 2.974.917 ekor, 2.984.434 ekor dan 2.984.845 ekor (Statistik Peternakan Jawa Tengah, 2004). Menurut Harsono (1997) ternak kambing merupakan salah satu komoditi andalan Jawa Tengah yang mempunyai peranan strategis, yakni: (a) mampu mensuplai sebanyak ± 10% dari total produksi daging, (b) merupakan jenis komoditi pilihan usaha (>60%) yang dikembangkan pada progam pengentasan kemiskinan atau progam IDT, dan (c) salah satu sumber pendapatan petani. Meskipun kontribusi sumbangannya terhadap pendapatan petani relatif kecil, tetapi dilihat dari peranannya dalam menyangga perekonomian rakyat cukup besar (Sutama, 1994). Kondisi usaha peternakan kambing di pedesaan pada umumnya dicirikan dengan : (a) modal terbatas, (b) input produksi rendah, (c) skala usaha relatif kecil, (d) pengelolaannya secara sederhana (tradisional) dan (e) merupakan usaha sambilan. Sifat usahanya (tujuan usaha) juga belum dapat menjamin kontinyuitas produksi (jumlah dan kualitas) yang memadai, serta belum mengarah kepada keuntungan usaha (Inounu et al, 1997). Pada kondisi tersebut, kendala pengembangan ternak kambing (peternakan rakyat) pada umumnya adalah produktivitas dan reproduktivitas ternak yang rendah, serta belum diberdayakannya