198 Penggunaan Komputer Dalam Pembelajaran Untuk Memperkuat Pemahaman Konsep-Konsep Fisika Eko Sulistya Jurusan Fisika FMIPA UGM Yogyakarta sulistya@ugm.ac.id Intisari-Ilmu Fisika, sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan alam, seharusnya merupakan ilmu yang mudah dipelajari karena setiap hari menjadi pengalaman hidup manusia. Namun pada kenyataannya, pendapat umum baik dari siswa maupun pengajar, ilmu fisika adalah ilmu yang sulit dipelajari. Sebagai akibatnya, cara yang biasa ditempuh dalam belajar fisika adalah dengan menggunakan metode belajar yang tujuan utamanya adalah agar perserta didik lulus dalam pelajaran fisika dengan sedikit mengesampingkan apakah konsep fisikanya berhasil ditanamkan atau tidak. Konsep yang tidak dipahami, terlebih lagi jika ada konsep yang salah, akan menyebabkan peserta didik tidak mampu menerapkan fisika dalam masalah-masalah baru. Dengan perkembangan teknologi komputer yang pesat saat ini, baik pada segi perangkat keras maupun pada perangkat lunaknya, pembelajaran fisika dapat dilakukan secara interaktif sehingga peran peserta didik tidak hanya pasif menjadi pendengar atau pengamat, namun juga ikut terlibat di dalam proses. Kajian ini memperkenalkan dua perangkat lunak yang dapat digunakan dalam pembelajaran fisika, yaitu Interactive Physics dan Python. Penggunaan perangkat lunak Interactive Physics diharapkan akan menuntun peserta didik pada pemahaman konsep fisika yang benar dan mendalam sedangkan belajar menyelesaikan masalah fisika dengan pemrograman Python diharapkan akan dapat membangkitkan penalaran (sense) bagaimana melakukan problem-solving secara komputasional, dan melatih ketrampilan menyelesaikan masalah fisika secara umum. Kata kunci: pembelajaran, konsep, fisika, interaktif, computer PENDAHULUAN Pemahaman dan penguasaan konsep fisika yang benar akan berpengaruh kepada kemampuan siswa dalam menerapkan fisika, baik dalam penyelesaian soal-soal fisika maupun untuk mempelajari sistem-sistem fisika yang baru ditemui. Kemampuan menyelesaikan soal fisika dapat ditingkatkan dengan cara pembimbingan atau pembinaan intensif pada siswa. Tujuan utama metode pembinaan dan bimbingan intensif adalah untuk menguasai berbagai macam bentuk soal, dan memberikan rumus-rumus singkat untuk mengerjakan soal. Jadi tujuan akhirnya adalah agar siswa mampu mengerjakan soal dan lulus ujian dalam bidang fisika. Cara tersebut efektif untuk tujuan jangka pendek, misalnya supaya lulus ujian naisonal, atau bagi lulusan SMK atau SMU agar lulus ujian masuk perguruan tinggi. Dalam metode pembinaan intensif semacam itu, konsep-konsep yang mendasari masalah fisika yang sedang dipelajari bisa jadi terabaikan, sehingga menyebabkan gagal konsep (miskonsepsi). Menurut Sugata Pikatan, gagal konsepsi adalah fenomena dimana seseorang gagal menerapkan teori di lapangan karena pemahaman konsep yang tidak lengkap atau keliru dalam intepretasinya (Pikatan, 1999). Lebih lanjut dikatakan bahwa gagal konsep tidak hanya terjadi pada siswa biasa yang sedang belajar fisika, namun dapat pula terjadi pada para sarjana, termasuk sarjana fisika. Pemahaman konsep yang benar akan lebih berguna dibanding dengan menghapalkan bentuk-bentuk soal dan rumus serta metode pengerjaan soal. Beberapa soal fisika yang nampaknya berbeda, sesungguhnya bisa berasal atau berlandaskan pada konsep yang sama. Dengan pemahaman dan penguasaan konsep yang benar, maka bermacam bentuk atau variasai soal dapat diselesaikan. Sedangkan apabila bentuk-bentuk soal dan bagaimana cara menyelesaikannya dihapalkan, maka jika ada sedikit variasi pada bentuk soal akan menyebabkan kebingungan pada siswa. Belum banyak riset yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana gagal konsep dalam bidang fisika. Salaj satu riset yang telah dilakukan adalah di Kota Palu (Saehana, 2011) menghasilkan bahwa bahwa guru fisika SMA di Kota Palu mengalami miskonsepsi mekanika yang cukup serius yaitu sebesar 40%. Hasil lain yang juga dapat dikemukakan dari riset tersebut adalah bahwa konsep mekanika yang umumnya mengalami miskonsepsi adalah kinematika (konsep jarak, posisi, kecepatan dan percepatan), dinamika (gaya, percepatan dan Hukum Newton). Demikian juga dari berbagai sumber di internet, menyatakan bahwa ditemukan beberapa miskonsepsi dalam fisika antara lain : mekanika, antara lain tentang kecepatan dan percepatan, massa dan berat, momentum dan gaya, serta beberapa dalam bidang optika (http://fisika-dan-pembelajaran.blogspot.com , http://fisikasma-online.blogspot.com ). Menurut Eggen, konsep dapat dipandang sebagai ide, objek atau kejadian yang membantu kita untuk memahami alam di sekitar kita (Eggen and Kauchak, 2004). Dengan demikian pengaruh lingkungan dapat menimbulkan miskonsepsi, seperti pengalaman sehari-hari yang berhubungan dengan fenomena fisis, misalnya mekanika, suhu, listrik, optis dan sebagainya. Selain lingkungan, miskonsepsi juga bisa disebabkan oleh faktor guru, metode pengajaran serta media pembelajaran fisika. Ilmu fisika erat dengan abstraksi. Kegagalan dalam proses abstraksi oleh pikiran, akan menyebabkan tidak dipahaminya konsep yang sedang diperlajari, dan bisa mengarahkan pada miskonsepsi jika konsep itu dipaksakan untuk dipahami. Dalam bidang fisika, abstraksi dapat dipandang sebagai proses yang