1 PENGEMBANGAN MODEL AUTHENTIC ASSESSMENT DALAM PEMBELAJARAN BAHASA Burhan Nurgiyantoro*) dan Pujiati Suyata FBS-UNY Kampus Karangmalang Yogyakarta, 55281, *) burhan@uny.ac.id Abstrak Kurikurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang kini dipakai di Indonesia merekomendasikan penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan penilaian otentik. Tujuan akhir penelitian ini adalah dihasilkannya produk buku panduan, yaitu Buku Panduan Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Bahasa yang dirancang dalam waktu dua tahun. Tahun pertama dilakukan survei di lapangan untuk mengungkap pengetahuan dan harapan guru, strategi pemberdayaan guru, dan pengembangan draf buku panduan penilaian otentik, serta kajian pustaka pendukung pengembangan produk. Survei lapangan dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pembelajaran dan penilaian yang dilakukan guru SMP mata pelajaran Bahasa Indonesia di DIY, dan sejawat untuk melakukan focus group dicussion (FGD). Pengumpulan data lewat angket, wawancara, studi dokumentasi, pelatihan dan pendampingan, dan FGD. Data angket dianalisis dengan teknik penghitungan persentase, sedang data yang lain dengan teknik deskriptif kualitatif. Penelitian pengembangan untuk tahun pertama ini menghasilkan kesimpulan: (i) pada umumnya guru belum memahami dan belum melaksanakan asesmen otentik dalam pembelajaran bahasa, (ii) strategi pemberdayaan guru dalam asesmen otentik ditempuh lewat penataran, pelatihan, dan pendampingan praktik pembuatan dan pelaksanaan asesmen otentik, (iii) pada umumnya guru dan sejawat berharap buku panduan mengandung konsep asesmen otentik, benar-benar untuk mengukur kompetensi berbahasa, bahasa sederhana, mudah diikuti, dan ada contoh-contoh konkret, dan (iv) draf buku panduan asesmen otentik yang dibuat diusahakan untuk mengakomodasi harapan-harapan tersebut. Kata Kunci: asesmen otentik, buku panduan, CTL Pendahuluan Dewasa ini kurikulum yang dipergunakan di dunia pendidikan di Indonesia adalah kurikulum berbasis kompetensi, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mulai dilaksanakan di sekolah tahun 2006/2007. Seringnya terjadi pergantian dan atau perubahan kurikulum pada hakikatnya merupakan reaksi pemerintah akibat terjadinya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat sehingga terjadi pergeseran kebutuhan dan tuntutan di masyarakat terhadap dunia pendidikan. KTSP menempatkan penilaian menempati posisi penting. Ada tiga fokus utama dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu penentuan kompetensi, pengembangan silabus, dan pengembangan penilaian. Komponen penilaian diyakini memberikan dampak nyata bagi keberhasilan pembelajaran kompetensi kepada peserta didik, maka penilaian kini