Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 113-121 UJI FORMULASI KUALITAS PUPUK KOMPOS YANG BERSUMBER DARI SAMPAH ORGANIK DENGAN PENAMBAHAN LIMBAH TERNAK AYAM, SAPI, BABI DAN TANAMAN PAHITAN oleh A.A. Nyoman Supadma dan Dewa Made Arthagama Fakultas Pertanian Universitas Udayana Abstract Research dealing with effects of organic rubbish and waste formulation on the quality of compost fertilizer was conducted in Agriculture Experiment Station, Faculty of Agriculture, Udayana University, Pegok, Denpasar, between June and October, 2007. The experiment utilized Randomized Complete Design, one factor with 10 formulation treatments and 3 replications. The treatments namely: A (100 % organic rubbish), B (75 % organic rubbish + 25 % pahitan plant), C (50 % organic rubbish + 50 % pahitan plant), D (75 % organic rubbish + 25 % waste of chicken cages), E (50 % organic rubbish + 50 % waste of chicken cages), F (75 % organic rubbish + 25 % waste of cow cattle), G ( 50 % organic rubbish + 50 % waste of cow cattle), H (75 % organic rubbish + 25 % waste of pig cattle), I (50 % organic rubbish + 50 % waste of pig cattle), and J (50 % organic rubbish + 12.5 % waste of cow cattle + 12.5 % waste of chicken cattle + 12.5 % waste of pig cattle + 12.5 % pahitan plant). The results showed that the treatment was highly significant to all parameters of compost at seven weeks incubation. The best formulation was E treatment, it was supported by increasing total nitrogen (1,61 %), available phosphorus (5,83 g/kg), Cation exchange capacity (CEC) (41,70 me/100 g), but decreasing C/N ratio (17,14), pH (7,07) and electric conductivity (very low). Key word: formulations, compost, organic rubbish, waste 1. Pendahuluan Pesatnya pertumbuhan penduduk di perkotaan sangat mempengaruhi jenis dan volume sampah yang dihasilkan.; Setiap aktivitas mahluk hidup tentu menghasilkan limbah atau yang disebut sampah. Jenis dan volume sampah yang dihasilkan ini sebanding dengan tingkat konsumsi manusia terhadap barang atau bahan yang digunakan sehari-hari. Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat perkotaan seperti Kota Denpasar memerlukan penanganan yang sangat serius. Menurut data DKP Denpasar (2003) bahwa masyarakat Kota Denpasar menghasilkan sampah sebanyak 2.200 m 3 setiap hari dengan komposisi 60 % sampah organik dan 40 % sampah anorganik. Menurut Corey (1987) bahwa limbah pada umumnya mengandung bermacam-macam unusur. Di antaranya, sisa-sisa bahan organik dan anorganik, logam berat, serta gas berbau busuk yang berdampak kurang baik terhadap lingkungan. Afandi dkk. (2005) menjelaskan apabila limbah organik itu dapat dikelola dengan baik dan tepat, maka akan sangat menguntungkan antara lain menghasilkan biogas maupun pupuk kompos yang bermutu tinggi. Ada dua alternatif yang dapat diajukan untuk memecahkan permasalahan limbah organik yaitu pertama membuang limbah tersebut pada suatu tempat yang aman, dan yang kedua mengolah limbah tersebut menjadi bahan yang bermanfaat. Mendaur ulang limbah organik jauh lebih menguntungkan daripada tindakan pertama, dan telah biasa dilakukan pada bidang pertanian yaitu untuk pupuk kompos (Notohadiprawiro dkk., 1991). Prihandarini (2005) menyatakan, prospek pengembangan industri pupuk organik sangatlah baik dan menguntungkan, karena dewasa ini sangat diminati oleh para petani, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik yang harganya semakin meningkat. Beberapa 113