Jurnal Natural Vol. 11, No. 2, Maret 2011 64 ANTIDIABETIC ACTIVITY FROM ETHANOL EXTRACT OF KLUWIH’S LEAF (Artocarpus camansi) Marianne 1 , Yuandani 1 , Rosnani 2 1 Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utaram (USU), 2 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh Email: anne_aceh@yahoo.com Abstract. Research on antidiabetic activity of ethanol leaf extracts Kluwih (Artocarpus camansi) has been carried out to determine the antidiabetic activity of ethanol extract of leaves kluwih (EELK) of mice using glucose tolerance test. The study began by dividing the mice into 6 groups. Group 1 was given 1% CMC, group 2 to group 4, given EELK 50, 100, 200, 400 mg / kg bw, respectively, and group 6 administered with glibenclamide 0.45 mg/kg bw. Thirty minutes later each group was given glucose 30 mg/kg bw. After 30 min of glucose loading, blood glucose levels of mice were measured, and measured again at minute 60, 90, 120 and 150 minutes. The results showed that the glucose tolerance test EELK a significant effect in lowering blood glucose levels compared to controls at 30 and 60 minutes after administration of glucose. At minute 90 to 150, the effect of blood glucose levels EELK restore back to normal. EELK demonstrated ability to reduce blood glucose levels, and EELK doses of 50 and 100 mg/kg bw showed antidiabetic effects better than a dose of 200 and 400 mg/kg bw. Increasing doses showed antagonistic effects: the ability to increase blood glucose levels. Key words: ethanol extract of kluwih’s leaf, blood glucose, glucose tolerance I. PENDAHULUAN Diabetes melitus menjadi permasalahan kesehatan dunia karena tingginya morbiditas maupun vmortalitas yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut [1]. Data World Health Organization (WHO) Tahun 2008 menyebutkan bahwa terdapat sekitar 180 juta orang dengan diabetes di seluruh dunia dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada Tahun 2030. Negara Indonesia pada Tahun 2000 berada di urutan ke-4 terbanyak kasus diabetes setelah India, Cina, dan Amerika Serikat, dengan prevalensi 8,6 persen dari total penduduk [2]. Meningkatnya prevalensi penyakit diabetes melitus dari tahun ke tahun menunjukkan perlunya perhatian serius dalam terapi penyakit tersebut. Terapi dengan obat-obat sintetis sering menemui kegagalan, antara lain disebabkan efek samping dan biaya yang tinggi akibat pengobatan jangka panjang. Hal ini mendorong peneliti untuk menemukan obat alternatif dengan efikasi yang lebih baik dan memungkinkan penderita diabetes mempunyai banyak pilihan pengobatan, sehingga meningkatkan peluang untuk sembuh, minimal dengan kadar glukosa darah yang terkontrol dan efek samping yang minimal serta biaya yang relatif lebih murah. Dalam upaya untuk menyembuhkan penyakitnya, penderita diabetes melitus kerap kali memanfaatkan pengobatan tradisional yang berasal dari tumbuh- tumbuhan. Jenis tumbuhan yang banyak dimanfaatkan dan berpotensi sebagai antidiabetes berasal dari famili Moraceae. Terdapat beberapa jenis tumbuhan yang termasuk dalam famili Moraceae yaitu tumbuhan kluwih (Artocarpus camansi), sukun (Artocarpus communis), nangka (Artocarpus nitidus). Ketiga tumbuhan ini telah lama dipakai secara tradisional tidak hanya oleh masyarakat Indonesia tetapi juga di negara-negara Pasifik, Papua New Guinea, dan Asia tropis [3]. Peneliti tersebut