Seminar dan Pertemuan Tahunan XXI PEI, PFI Komda Sulawesi Selatan dan Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 7 Juni 2011 di Hotel Singgasana Makassar 38 APLIKASI RIZOBAKTERI DAN Trichoderma spp. TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN KEJADIAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG DAN KUNING PADA TANAMAN LADA (Piper nigrum L.) Muhammad Taufik Staf Pengajar pada Jurusan Agroteknologi, Fak. Pertanian Universitas Haluoleo Jl. H.A.E. Mokodompit, Kampus Bumi Tridharma, Kampus Baru Anduonohu, Kendari ABSTRAK Tanaman lada adalah salah satu komoditi andalan Sulawesi Tengggara, namun demikian produktivitasnya masih rendah. Infeksi penyakit busuk pangkal batang (BPB) dan kuning adalah penyebab rendahnya produktivitas tanaman lada. Alternatif pengendalian yang digunakan dengan memanfaatkan agens hayati rhizobakteri dan Trichoderma spp yang lebih ramah lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan rhizobakteria dan Trichoderma spp. Dalam menekan kejadian penyakit BPB dan kuning. Penelitian dilakukan di lapang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi rizobakteri memacu rata-rata pertambahan tinggi tanaman 0,87 cm dan jumlah daun 5,90 helai, Trichoderma spp tinggi tanaman 0,88 cm dan jumlah daun 6,85 helai. Rhizobakteri menekan kejadian penyakit BPB sampai 8,75% dan penyakit kuning 8,75% , Trichoderma spp. menekan kejadian penyakit BPB 5,00% dan penyakit kuning 7,50%. Sementara jika diaplikasikan secara bersamaan tidak lebih baik dibandingkan aplikasi secara sendiri-sendiri (tunggal). Kata kunci: rhizobakteri, Trichoderma spp., penyakit BPB, penyakit kuning dan lada PENDAHULUAN Tanaman lada (Piper nigrum L.), di Indonesia termasuk tanaman rempah-rempah yang banyak digunakan sebagai bahan bumbu masak sehingga tanaman tersebut cukup dikenal di masyarakat. Tanaman ini sebelum tahun 1945 sudah banyak masyarakat membudidayakan tanaman sehingga mampu memenuhi 80% kebutuhan lada dunia. Namun sejak tahun 2000, produksi lada Indonesia mulai mengalami penurunan, kemudian secara perlahan produksi lada Indonesia mulai mengalami perbaikan dan mampu memenuhi 33% kebutuhan lada dunia (Sarpian, 2003). Secara nasional produksi lada bersifat fluktuatif dan cenderung masih rendah dibandingkan potensi hasilnya. Data produksi lada di Sulawesi Tenggara pada tahun 2004-2008 hanya mencapai 77 – 79,7 ton/tahun dengan luas areal 190,8 ha (BPS, 2009). Rata-rata produkstivitas lada di Sulawesi Tenggara baru mencapai 500-600 kg/ha dibandingkan dengan produksi lada di daerah lain produksi tersebut masih relatif rendah. Rendahnya produksi lada di Sulawesi Tenggara salah satunya disebabkan oleh infeksi penyakit busuk pangkal batang (BPB) dan kuning. Upaya pengendalian penyakit ini belum sepenuhnya dilakukan sehingga diduga menjadi sumber inokulum potensial selalu tersedia dikebun petani. Akibatnya penyakit BPB dan layu berpengaruh produksi lada yang cenderung terus mengalami penurunan. Penyakit busuk pangkal batang (BPB) telah tersebar di seluruh pertanaman lada di Indonesia. Menurut Kasim (1990), kerusakan tanaman lada akibat penyakit BPB di Indonesia setiap tahunnya berkisar antara 10 - 15% dari total tanaman lada. Sementara penyakit kuning yang disebabkan oleh patogen Fusarium spp., dan nematoda parasit juga berkontribusi terhadap penurunan produksi lada di Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian oleh Mariadi et al., (2009) bahwa hasil ekstraksi tanah asal perakaran tanaman lada pada beberapa pertanaman lada di Sulawesi Tenggara ditemukan lima jenis nematoda parasit yang ditemukan yaitu Criconemoides spp, Pratylenchus spp., Meloidogyne spp., Xiphinema spp. dan Helicotylenchus spp. Mustika (1990), penyakit yang paling banyak menginfeksi tanaman lada