1 Perencanaan dan Perancangan Kawasan Sentra Industi Keripik Tempe Kampung Sanan Sebagai Kawasan Wisata Kota Malang Gaguk Sukowiyono, Lalu Mulyadi Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Nasional Malang Jln. Bendungan Sigura-gura No. 2, Malang 65145, Jawa Timur. gaguksukowiyono@yahoo.com dan lalu_mulyadi@yahoo.com Abstraksi Kota Malang merupakan kota unggulan di bidang pariwisata, hal ini terwadahi dalam konsep Tribina Cita Kota Malang, dimana salah satunya adalah menjadikan Kota Malang sebagai kota pariwisata. Disamping Kota Malang sebagai salah satu tujuan wisata, Kota Malang tumbuh sebagai kota industri dan perdagangan. Kemampuan ekonomi dan perdagangan yang sangat besar ini mampu merubah orientasi Kota Malang dari kota pariwisata menjadi kota wisata belanja. Pada akhirnya, sebutan ini dijadikan sebagai identitas Kota Malang. Variabel penelitian yang digunakan adalah kawasan industri kecil kampung Sanan. Sedangkan pengambilan data dilakukan melalui dua metode yaitu observasi dan wawancara dengan menggunakan pendekatan partisipasi masyarakat yang tinggal di kawasan kampung Sanan kota Malang. Kesemua data yang terkumpul melalui dua metode ini akan dilakukan uraian secara deskriptif, kemudian dari uraian ini dilakukan ringkasan (dinarasikan menjadi hal yang sangat objektif), kemudian di analisis triangulasi artinya uraian yang sangat objektif tadi di hubungkan dengan narasi yang lainnya sehingga ditemukan sebuah kesimpulan dari kesimpulan inilah kemudian dilakukan rekomendasi desain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan industri kecil kampung Sanan dapat diketahui karakteristiknya dan dapat diusulkan beberapa desain yang ideal. Kata kunci: Perencanaan, Perancangan, Partisipasi Masyarakat, Sentra Industri Kecil. PENDAHULUAN Kota Malang merupakan kota unggulan di bidang pariwisata, hal ini terwadahi dalam konsep Tribina Cita Kota Malang, dimana salah satunya adalah menjadikan Kota Malang sebagai kota pariwisata. Disamping Kota Malang sebagai salah satu tujuan wisata, Kota Malang tumbuh sebagai kota industri dan pengelolaan, perdagangan, dan jasa. Kemampuan ekonomi dan perdagangan ini mampu merubah orientasi Kota Malang dari kota pariwisata menjadi kota wisata belanja yang pada akhirnya, sebutan ini dijadikan sebagai identitas Kota Malang sekarang. Ciri khas ini merupakan salah satu daya tarik daerah yang berpotensi untuk mempromosikan daerah ke dunia luar. Oleh sebab itu, ciri khas tersebut harus dapat dikemas secara menarik dan aktual sehingga dapat mendorong berkembangnya daerah tersebut. Kekhasan kawasan Sentra Industri Keripik Tempe Kampung Sanan Malang merupakan kawasan industri kecil berbasis rumah tangga yang menjadi salah satu ikon Kota Malang dan menjadi pusat oleh-oleh yang dituju para wisatawan jika berkunjung ke Kota Malang. Kawasan sentra industri keripik tempe kampung Sanan ini semakin dikenal oleh khalayak dengan adanya pembenahan-pembenahan secara fisik dan non fisik. Akan tetapi pembenahan-pembenahan tersebut dirasakan kurang menyeluruh, dampaknya tidak seluruh lokasi industri keripik tempe di Kampung Sanan dapat bertahan dengan persaingan yang terjadi. Salah satu faktor yang seringkali menjadi pemicu terjadinya penurunan semangat usaha para pengusaha bermodal kecil adalah faktor lokasi, suasana, tata ruang, sistem sirkulasi jalan, drainase, dan bangunan-bangunan yang kurang ditata bentuk fasadenya. Faktor lokasi sangat berkaitan dengan perencanaan dan perancangan sebuah kawasan, sehingga memerlukan tinjauan ulang agar dapat meminimalkan dampak dari adanya perbedaan lokasi terhadap kegiatan usaha industri kecil kampung Sanan ini menjadi kampung yang ideal, layak dan produktif sebagai kampung wisata kota. TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Perencanaan dan Perkembangan Pengertian teori menurut Toulmin (1960) dalam Faludi (1973) adalah suatu penjelasan yang merespon hasil dari pengamatan kejadian yang tak terduga. Sementara pengertian perencanaan adalah bentuk pendefinisian masalah ke dalam cara-cara yang dapat diterima untuk melakukan tindakan atau mengintervensi suatu kebijakan (Friedmann, 1987). Dalam perkembangannya, ternyata teori perencanaan tidak dapat berdiri sendiri untuk merespon kejadian-kejadian tak terduga tersebut. Teori perencanaan membutuhkan kontribusi disiplin ilmu lain sebagai modal observing sekaligus media penjelas, seperti; ilmu sosial, matematika, lingkungan, civil engineering, arsitektur dan lain-lain. Penyerapan substansi metode dari disiplin ilmu