PEMBENTUKAN STRUKTUR RUANG PERMUKIMAN BERBASIS BUDAYA (Ibnu Sasongko) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals/ 1 PEMBENTUKAN STRUKTUR RUANG PERMUKIMAN BERBASIS BUDAYA (Studi Kasus: Desa Puyung - Lombok Tengah) Ibnu Sasongko Jurusan Planologi, Institut Teknologi Nasional Malang Jl Bendungan Sigura-gura 2 Malang e-mail: koko_is@yahoo.com ABSTRAK Sejak lama disadari bahwa budaya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk struktur ruang permukiman. Pada masyarakat yang teguh memegang budaya seperti di Bali misalnya, struktur ruang permukiman secara makro sangat ditentukan oleh sistem kosmis yang diwujudkan melalui simbolisme gunung sebagai sakral dan laut sebagai profane, sedang pada skala mikro nampak pada pembagian ruang permukiman, dan dapat dikatakan bersifat tetap. Penggambaran struktur ruang permukiman juga dapat dilihat dari sisi budaya lain seperti pada pelaksanaan ritual dan acara keagamaan. Acara ini bersifat rutin akan tetapi ruang yang digunakan tidak semata untuk ritual saja, sehingga strukturnya juga nampak temporal. Masyarakat Sasak di Pulau Lombok juga sangat terkait dengan budaya dalam menata ruang permukimannya, ataupun pada ritual daur hidup dan berbagai acara keagamaan. Melalui kajian ini dapat dilihat adanya pembentukan struktur ruang permukiman berbasis budaya Sasak. Kata kunci : struktur ruang, budaya, dan Sasak. ABSTRACT It has been realized that culture has an important role in formation of settlement spatial structure. The people who highly related to culture such in Bali, in macro context, settlement spatial structure is determined by cosmic system performed by symbolism of sacred mountain and sea as profane area. In the micro scale, it is manifested in the distribution of space in house yard, therefore it is permanently defined. On the other context, settlement spatial structure can also be shown by observing ritual and religious activities. These activities are routinely conducted, and it the usage of space are not permanent, then the structure of space will be temporary. Sasaknese in Lombok island are strongly embraced to their culture in relation with their settlement arrangement, others are performed in life cycle and religious activities. By observing Sasaknese culture, we would be able to understand the settlement spatial structure. Keywords : spatial structure, culture, and Sasak. PENDAHULUAN Pembentukan suatu lingkungan permukiman pada dasarnya sangat ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah budaya masyarakat setempat. Bagaimana individu berhubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya sudah tentu berbeda antara satu budaya dengan budaya lainnya, selanjutnya bagaimana ruang itu ditata dan dirancang sangat tergantung pada pandangan hidup masing-masing (Dansby, 1993: 137). Salah satu bagian yang penting untuk diketahui dalam hubungan antara manusia dengan lingkungannya adalah pemahaman tentang bagaimana ruang diorganisasikan tergantung pada tujuan manusia itu sendiri (Aspinall, 1993: 337). Berbagai hal berkait dengan budaya, norma, tradisi dsb, lebih mudah terlihat pada permukiman tradisional. Permukiman tradisional sering direpre- sentasikan sebagai tempat yang masih memegang nilai-nilai adat dan budaya, yang dihubungkan dengan nilai-nilai kepercayaan atau agama yang bersifat khusus/unik pada masyarakat tertentu yang berakar dari tempat tertentu pula diluar determinasi sejarah (Crysler, 2000: 55). Merujuk konsep strukturalisme Levi-Strauss (1963:121)disebutkan pada dasarnya masyarakat memiliki struktur yang kompleks didasarkan atas bentuk dualisme dalam tata relasi yang paling sederhana. Dengan mendasarkan pada oposisi binair dari Levi Strauss, secara umum Waterson (1990) menggambarkan tipikal permukiman di Asia Tenggara merupakan gambaran yang diistilahkan oleh Levi Strauss sebagai dualisme konsentris. Representasi hirarki ruang digunakan sebagai ekspresi hubungan-hubungan politik, seperti halnya pandangan hidup sebagai perhatian masyarakat. Layout berbagai ibukota di Asia Tenggara mere- fleksikan konsep kekuatan pusat yang meng-