MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 8, NO. 2, AGUSTUS 2004: 54-60 54 54 KARYA SASTRA JAWA KUNO YANG DIABADIKAN PADA RELIEF CANDI-CANDI ABAD KE-13—15 M Agus Aris Munandar Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia E-mail: jajaghu@plasa.com Abstrak Karya sastra Jawa Kuno kaya dengan bermacam tema yang antara lain berhubungan dengan panutan kehidupan, nilai- nilai kebajikan, dan gagasan-gagasan yang baik lainnya, namun sukar untuk dipahami karena dituangkan dalam bentuk filosofis. Oleh karena itu dalam kajian ini karya sastra Jawa Kuno akan ditelisik prinsip dasar alur kisahnya sehingga dapat diketahui beberapa alasan yang membuat suatu kisah dipahatkan dalam bentuk relief dengan berbagai aspeknya. Kajian ini menggunakan landasan teori semiotika Charles Sanders Peirce, karena bangun trikotomo (sign, referent, interpretant) yang dikemukakan olehnya terasa cocok untuk menelusuri makna yang tersembunyi dalam hal penggubahan suatu cerita yang kemudian dipahatkan dalam bentuk relief. Untuk menjelaskan proses bernalar dalam upaya pencarian makna juga diterangkan secara semiosis. Abstract Old Javanese literatures are rich of themes which mostly are related to way of lives, goodness values and ideas, which unfortunately is not easy to understand their meaning because they were often written in philosophical phrases. We have to accept the fact that study on Old Javanese literature are mostly focused on its formal aspects such as the composing basic principles and story line. While on the other side, studies of reliefs based on Old Javanese literature at Hindu-Buddhist monuments are often focused on the physical appearance, carving style, and measurement aspects. This paper is intended to reveal the hidden meanings of some Old Javanese literature as depicted in the Old Javanese sacred monuments from the 13 th —15 th century using what is called semiosis process. The study is based on the Charles Sanders Peirce’s semiotic theory. The trichotomy structure (sihn—referent—interpretant) is used in analyzing the meanings behind the carved stories and the composing of the story itself. Keywords: Jawa kuno, karya sastra, relief naratif, semiotika, semiosis. 1. Pendahuluan Pada dinding kaki candi-candi Hindu atau Buddha yang terdapat di Jawa terdapat hiasan ornamental yang turut memperindah bangunan suci masa lalu tersebut. Hiasan ornamental yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah relief naratif yang umumnya menggambarkan cerita keagamaan dan pendidikan. Namun ada juga yang latar belakang ceritanya adalah kisah romantis atau bahkan sesuatu cerita yang belum dikenal. Kebanyakan panil-panil relief naratif ditempatkan di bagian-bagian yang strategis pada bangunan candi, sehingga mudah untuk diamati oleh para pengunjung di masa silam ataupun di masa kini. Sudah tentu dengan hadirnya relief-relief naratif, bangunan candi tersebut menjadi semakin menarik, terkesan berwibawa dan anggun. Walaupun demikian tidak semua candi dihias dengan panil-panil relief naratif, ada juga candi yang ukurannya relatif besar tetapi tidak dihiasi dengan relief cerita apapun. Sedangkan candi yang ukurannya relatif kecil dihias dengan banyak panil relief naratif yang mengacu pada lebih dari satu cerita dalam karya sastra Jawa Kuno. Dapat dipastikan terdapat tujuan lain dipahatkannya relief naratif di dinding candi-candi tersebut, jadi bukan sekedar hanya memperindah bangunan suci tersebut. Dari sekian banyak karya sastra Jawa Kuno yang dikenal hingga saat ini, dapatlah diketahui bahwa hanya beberapa karya sastra saja yang divisualisasikan ke dalam bentuk relief cerita. Agaknya terdapat sejumlah alasan tertentu sehingga para seniman ahli pahat masa itu hanya memilih dan menyukai beberapa cerita saja. Kajian ini berupaya untuk menjelaskan masalah- masalah yang berkenaan dengan pemahatan karya sastra