1 Rusuh Suporter Sepakbola vs Polisi dalam Bingkai Berita : Mempersoalkan Akurasi dan Verifikasi Berita Fajar Junaedi (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, peneliti sports communication, e-mail fajarjun@gmail.com) Abstrak Stadion Manahan membara. Pasca pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia yang mempertemukan Persis Solo melawan Martapura FC tanggal 22 Oktober 2014, suporter Persis Solo terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Seorang suporter Persis Solo meninggal, beberapa lainnya mengalami luka. Pertandingan hari tersebut memang pertandingan hidup – mati bagi Persis Solo untuk lolos ke babak semifinal Divisi Utama Liga Indonesia. Jika sukses lolos ke semifinal, peluang Persis Solo untuk naik ke kasta tertinggi sepak bola profesional Indonesia, Liga Super Indonesia (LSI) akan menjadi kenyataan. Hasil akhir pertandingan Persis Solo vs Martapura FC yang berakhir imbang menjadikan peluang Persis Solo maju ke babak semifinal hampir pasti musnah. Pasoepati, nama suporter dari Persis Solo, meluapkan amarah dengan menyerang wasit yang mereka anggap tidak adil. Amarah yang serentak dibalas dengan gas air mata oleh polisi yang berada di dalam stadion. Di luar stadion, massa yang marah membakar sebuah motor polisi dan merusak pos polisi. Hanya beberapa jam, di stasiun televisi swasta muncul running text “Bentrok antar suporter di Solo, seorang tewas.” Sebuah berita yang aneh, karena yang bentrok adalah polisi vs suporter. Hal serupa terjadi dalam pemberitaan di laman media online dengan langsung menyebut bahwa korban meninggal disebabkan oleh pengeroyokan sesama suporter. Persoalan akurasi dan sekaligus juga verifikasi berita perlu dipertanyakan. Sehari setelah Stadion Manahan membara, koran – koran lokal Solo dan Yogyakarta menjadikan tragedi ini di halaman pertama. Umumnya, koran mengambil informasi dari polisi, sehingga tentu saja yang disalahkan adalah suporter atau fans Persis Solo. Namun, berbeda dengan media televisi dan laman media online, koran – koran