Studi Pengembangan Sistem Sirkulasi Bertekanan dalam Sistem Recovery Uap Bensin SPBU I Made Astina, Wijaya Kesuma, dan Bagus Budiwantoro Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132 E-mail : astina@soon.com Abstrak Jumlah emisi uap bensin yang dilepaskan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sangat besar. Emisi ini terjadi karena adanya penguapan selama bongkar muat dan pengisian distribusi bensin. Prosentase penguapannya mencapai 0,78%. Bensin yang terdiri atas sejumlah campuran hidrokarbon utama sangat penting untuk dianalisis di dalam usaha mengurangi kerugian penguapan bensin sehingga kondisi yang optimal dapat diketahui dalam pengembangan sistem recovery uap bensin SPBU. Dari kajian analisis sistem dan studi pustaka tentang berbagai sistem recovery yang telah diusulkan orang, sebuah sistem dibahas dalam paper ini. Modifikasi terhadap sistem yang telah ada perlu dilakukan. Penambahan sejumlah komponen serta pembuatan sistem tertutup telah dipilih untuk memberikan kontribusi pada masalah tersebut. Bensin memiliki sifat mudah menguap jika berada pada udara bebas. Untuk menjaga agar bensin tetap pada fase cair maka tekanan harus berada di atas 2 bar. Penguapan dalam tangki pendam dikurangi dengan cara menjaga tekanan di dalam tangki pendam sebesar 1,5 bar. Tekanan ini dapat diperoleh dengan cara mengalirkan uap bensin bertekanan ke dalam tangki pendam. Analisis ekonomi menunjukkan sistem ini layak untuk diaplikasikan. IRR nya sebesar 23% dan payback period dalam 3 tahun 1 bulan. Kata kunci:uap bensin, recovery, pengisian bensin, SPBU Pendahuluan Dari tahun ke tahun konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional semakin meningkat. Salah satu parameter yang dapat dilihat adalah peningkatan penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia. Peningkatan konsumsi bahan bakar akibat peningkatan jumlah kendaraan bermotor dewasa ini tidak sejalan dengan peningkatan jumlah produksi bahan bakar nasional. Kebutuhan bahan bakar di Indonesia dewasa ini telah mencapai 15.000.000 kL lebih. Permintaan bahan bakar yang tinggi terlihat dari jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) yang ada, yaitu sekitar 3157 stasiun. Secara umum proses yang terjadi di SPBU dapat dibagi kedalam tiga kelompok besar: Pengisian tangki penyimpan oleh truk pengirim BBM (unloading process), Penyimpanan bahan bakar di tangki penyimpan, Penyaluran BBM dari tangki penyimpan ke kendaraan konsumen (dispensing). Bensin termasuk ke dalam Volatile Organic Compounds (VOCs) yaitu zat yang tersusun dari berbagai macam komponen organik (hidrokarbon) yang berbeda. Tekanan uap pada bensin ditentukan dari tekanan uap dan perbandingan komposisi penyusun bensin. Tekanan uap bensin dapat diubah- ubah dengan cara mengubah komposisi dari unsur-unsur penyusunnya. Sifat bensin yang mudah menguap bila terjadi kontak dengan udara mengakibatkan tingkat penguapan bensin di SPBU cukup tinggi [Hartono 1999a]. Penguapan ini terjadi pada periode bongkar muat (unloading) dan juga pada periode pengisian distribusi bahan bakar ke kendaraan konsumen (dispensing). Pada periode pengisian ke kendaraan konsumen, uap jenuh bensin dari tangki kendaraan konsumen terdesak keluar oleh bensin cair yang masuk. Dalam tangki penyimpan, volume bensin cair berkurang karena penyaluran ke tangki kendaraan konsumen yang mengakibatkan ruang kosong di dalam tangki penyimpan semakin besar sehingga tekanan total uap di atas bensin cair semakin rendah. Uap bensin yang semula sudah ada di dalam tangki pendam tidak setimbang lagi menuju ke kondisi kesetimbangan. Ekspansi uap bensin menyebabkan sistem uap-cair bensin menjadi tidak dalam kondisi kesetimbangan karena tekanan di dalam tangki pendam menurun. Agar kondisi kesetimbangan kembali tercapai, maka sebagian bensin cair menguap hingga tekanan di dalam tangki penyimpan kembali ke kondisi setimbang. Uap di dalam