Seminar Nasional Teknik Industri BKSTI 2014 Syamsul Anwar, Jasril, Yunizurwan, dan Ira Restica Palba, Penerapan Metode Quality ...... III-79 Penerapan Metode Quality Function Deployment untuk Peningkatan Kualitas Produk Coklat Lokal Syamsul Anwar 1 , Jasril 2 , Yunizurwan 3 , Ira Restica Palba 4 1 Program Studi Sistem Produksi Industri Akademi Teknologi Industri Padang (syamsul-a@kemenperin.go.id) 2 Program Studi Sistem Produksi Industri Akademi Teknologi Industri Padang 3 Program Studi Sistem Produksi Industri Akademi Teknologi Industri Padang (yoensboer@gmail.com) 4 Alumni Program Studi Manajemen Industri, Jalan Bungo Pasang, Tabing, Padang, Sumatera Barat, 25171 (i_palba@yahoo.co.id) ABSTRAK Coklat chokato merupakan produk coklat lokal dari Sumatera Barat. Faktor kualitas produk tetap diyakini menjadi faktor penentu dalam memenangkan persaingan di pasar. Diperlukan kajian terhadap strategi peningkatan kualitas produk dengan berorientasi kepada kebutuhan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi peningkatan kualitas coklat lokal dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Objek penelitian adalah coklat batangan dengan jenis milk-chocolate dan dark-chocolate. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner, pengamatan langsung, dan wawancara. Dari penyebaran kuesioner didapatkan atribut-atribut kualitas yakni ; rasa, variasi rasa, aspek kemasan (informasi tentang merk, jenis rasa, berat, komposisi, gizi, halal, waktu kadaluarsa, tampilan yang menarik), harga, dan kemudahan dalam mendapatkan. Hasil benchmarking terhadap produk pesaing didapatkan kedua jenis coklat lokal masih berada di bawah level produk kompetitor untuk semua atribut tersebut. Penelitian ini mengusulkan peningkatan cita rasa cokelat mulai dari tahapan sortasi biji kakao, pengolahan hingga tahap pengemasan. Peningkatanan variasi rasa, memperbaiki tampilan kemasan dan menambahkan informasi pada kemasan serta meningkatkan usaha promosi produk. Kata kunci: peningkatan kualitas, coklat lokal, QFD 1. PENDAHULUAN Sumatera Barat merupakan salah satu sentra perkebunan kakao di Kawasan Barat Indonesia [1]. Pemerintah Pusat telah menetapkan agroindustri kakao sebagai industri unggulan di provinsi Sumatera Barat. (Kemenperin, 2008). Walaupun Sumatera Barat belum memiliki industri pengolahan kakao skala besar tetapi telah memiliki industri kecil pengolahan kakao. Lokasi pabrik pengolahan tersebut berada di Kanagarian Kapalo Koto, Kec. Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh. Pabrik ini dikelola oleh kelompok tani Tanjung Subur dan bernama Chokato (cokelat kapalo koto). Pabrik ini memproduksi coklat berfermentasi. Untuk pengadaan bahan baku dengan mengandalkan sepenuhnya dari hasil kebun anggota kelompok tani . Karena kuantitas produksinya yang masih relatif kecil sehingga wilayah pemasarannya juga masih terbatas. Pihak perusahaan berencana akan meningkatkan kuantitas produksi maupun wilayah pemasarannya. Dalam persaingan bisnis dewasa ini yang semakin ketat maka pelaku usaha dituntut untuk terus meningkatkan daya saing produknya. Aspek kualitas produk merupakan salah satu aspek yang menentukan daya saing suatu produk di pasar selain harga [10]. Untuk mengembangkan wilayah pemasaran, persoalan kualitas merupakan hal yang krusial. Dari pengamatan di lapangan, produk olahan kakao yang paling populer adalah coklat batangan. Produk ini sangat mudah ditemukan antara lain di supermarket, swalayan, kantin sekolah, dan lain sebagainya. Coklat yang beredar paling banyak berasal dari produsen coklat di Pulau Jawa dan dari negara Singapura dan Malaysia. Tentunya kualitas produk dari coklat yang beredar tersebut baik dari segi rasa dan kemasan sudah tidak diragukan lagi. Perusahaan cokelat lokal telah menyadari bahwa untuk mampu bersaing, kualitas produk perlu ditingkatkan. Untuk itulah diperlukan kajian mengenai strategi peningkatan kualitas produk cokelat lokal Sumatera Barat. Beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji industri pengolahan kakao dapat dilihat antara lain ; [2] yang melakukan kajian terhadap aspek kelayakan dari sisi teknologi dan finansial industri pengolahan kakao Sumatera Barat. Hasibuan (2012) yang