Proceeding 2014 ICoA-APTA Indonesian Track, 24-25 November 2014 1 Bioremediasi Logam Kromium Pada Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit Menggunakan Isolat Bakteri Indigenous Nur Hidayat, Sakunda Anggarini dan Alfiatul Maula Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Jl. Veteran No.1 Malang, Indonesia. Email: nhidayat@ub.ac.id Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri indigenous yang diisolasi dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) PT Usaha Loka dalam mereduksi logam kromium. Isolat bakteri resisten kromium diisolasi secara streak plate pada media Luria-bertani agar yang mengandung kromium 2 μg/ml. Empat isolat bakteri indigenous yang diperoleh (isolat 11040, 21000, 21011, dan 21012) mampu mereduksi kromium 2 μg/ml pada media Luria-bertani masing- masing hingga 34,6%, 35,0%, 37,0%, 42,1% selama 120 jam. Isolat 21012 mampu mereduksi kromium pada limbah cair industri penyamakan kulit hingga ≈97% selama 120 jam baik pada limbah cair dengan perlakuan sterilisasi maupun tanpa perlakuan sterilisasi. Nilai pH akhir pada limbah cair industri penyamakan kulit diketahui telah memenuhi baku mutu limbah industri di Jawa Timur pada limbah dengan perlakuan sterilisasi. Isolat bakteri yang diperoleh berpotensi untuk digunakan dalam bioremediasi limbah cair industri penyamakan kulit yang mengandung kromium karena dapat bekerja pada kondisi lingkungan yang sesungguhnya. Kata Kunci: Bakteri resisten kromium, bioremediasi, limbah cair industri penyamakan kulit 1. PENDAHULUAN Kromium (Cr) adalah salah satu polutan yang terdapat pada lingkungan yang disebabkan oleh berbagai limbah industri. Kromium(VI) dan kromium(III) digunakan pada industri plating, tekstil, penyamakan kulit, dan pengawetan kayu (Owlad et al., 2009). Kromium(VI) diketahui seribu kali lebih toksik jika dibandingkan dengan kromium(III) (Villegas et al., 2008). Industri penyamakan kulit menggunakan kromium sebagai tanning agent atau bahan penyamak pada kulit yang diproses sehingga menghasilkan kulit yang awet dan siap diolah sesuai kebutuhan. Sebagian besar kandungan kromium terdapat pada limbah cair karena proses penyamakan kulit membutuhkan sejumlah besar air. Secara umum, kuantitas effluent sekitar 30 liter untuk setiap kilogram kulit yang diproses menjadi kulit tersamak (Doble dan Kumar, 2005). Beberapa jenis bakteri seperti Bacillus sp. (Tripathi et al., 2011), Alcaligenes faecalis,Staphylococcus sp. (Shakoori et al., 2010) dan Lactobacillus sp. (Mishra et al., 2012) diketahui dapat mereduksi kromium(VI) menjadi kromium(III), sehingga toksisitas kromium pada limbah dapat berkurang. Tujuan utama penelitian yang dilakukan yaitu untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri indigenous dalam mereduksi kandungan logam kromium pada limbah cair industri penyamakan kulit 2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1. Bahan Sampel air limbah diambil dari inlet kolam pengolahan biologis IPAL PT Usaha Lokal Malang. 2.1. Isolasi Bakteri Sampel air limbah sebanyak 1 ml diencerkan hingga konsentrasi 10 -5 menggunakan pepton 0,1%, kemudian