1 EVALUASI PERENCANAAN WAKTU PROYEK SISTEM INFORMASI MENGGUNAKAN CRITICAL PATH METHOD (Studi Kasus : Proyek Pengembangan Smart Graduate di Universitas XYZ) Sri Ngudi Wahyuni Teknik Informatika STMIK AMIKOM Yogyakarta Email : yuni@amikom.ac.id Abstrak Critical Path Method merupakan metode perencanaan waktu proyek sistem informasi yang mengidentifikasi seluruh kegiatan proyek agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai dengan biaya dan sumberdaya yang dianggarkan. Penggunaan CPM pada kegiatan perencanaan waktu proyek sistem informasi masih jarang dilakukan karena bekerja berdasarkan proyek (project based). Sebagian besar perencanaan waktu sistem informasi masih bersifat tradisional dengan mengedepankan penjadwalan waktu menggunakan grafik batang sehingga pengelolaan proyek tersebut belum dilakukan dengan baik, bahkan mengalir apa adanya. Penggunaan tool yang bersifat komersial tidak sepenuhnya dapat difungsikan dalam perencanaan proyek. Tool hanya berfungsi sebagai alat dalam pembuatan struktur susunan kegiatan bukan analisa kegiatan. Oleh sebab itu diperlukan suatu metode untuk melakukan perencanaan waktu proyek yang sesuai. Hasil yang dicapai adalah efisiensi waktu terhadap proyek smart graduate sebesar 42 hari dari waktu seharusnya dan rekomendasinya adalah penggunaan metode CPM dalam perencanaan waktu proyek sistem informasi pada kegiatan proyek yang akan datang. Kata kunci: CPM, Analisis Jalur Kritis dan Analisis Waktu 1. Pendahuluan Penelitian yang dilakukan Putra (2013) membuktikan bahwa penjadwalan waktu menggunakan CPM terbukti sangat membantu dalam masalah efisiensi waktu dan biaya [1]. Hamzah, dkk (2013) melakukan penelitian tentang penerapan jaringan CPM, terbukti bahwa CPM sangat membantu dalam efisiensi waktu yang berujung pada efisiensi biaya [2]. Penelitian tentang manajemen proyek waktu sistem informasi banyak dilakukan dengan berbagai metode diberbagai perusahaan, yang membedakan penelitian ini adalah membandingkan antara hasil efisiensi waktu proyek ketika tidak menggunakan metode apapun dengan hasil ketika menggunakan metode CPM. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini secara umum ditujukan untuk melihat adopsi CPM untuk kegiatan pengembangan proyek sistem informasi di STMIK AMIKOM Yogyakarta. Secara spesifik pertanyaan yang akan dijawab penelitian ini adalah (a) Apakah CPM dapat diterapkan dalam pengembangan proyek sistem informasi di STMIK AMIKOM Yogyakarta?; dan (b) Apa manfaat menggunakan CPM pada pengembangan proyek sistem informasi di STMIK AMIKOM Yogyakarta? Selanjutnya, tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian. Bagian 2 memberikan landasan teori terkait dengan CPM, bagian 3 menjelaskan metode penelitian yang digunakan, dan bagian 4 mendeskripsikan hasil. Bagian 5 kesimpulan sebagai penutup dalam tulisan ini. 2. Landasan Teori 2.1. Apa dan Mengapa CPM? CPM dikembangkan oleh DuPont Company dan Remington Rand Corporation tahun 1950 untuk mengelola pemeliharaan pembangkit listrik dan konstruksi. Ketika pertama kali diterapkan metode CPM dapat menyelamatkan perusahaan satu juta dolar pada tahun pertama penggunaan [3]. CPM lebih banyak digunakan dibandingkan metode tradisional lainnya [4]. Ketika terjadi perubahan struktur topologi proyek, CPM dapat menentukan kapan dan bagaimana merevisi jadwal dan faktor-faktor yang akan terpengaruh oleh perubahan. Hal tersebut tidak dapat dilaksanakan secara akurat dengan metode perencanaan proyek tradisional. CPM menerjemahkan kebutuhan proyek ke dalam sistem matematika melalui tahapan perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian proyek. Keuntungan terbesar penggunaan CPM terlihat pada tahap perencanaan, pengguna diwajibkan untuk memikirkan sebuah proyek secara logis dan rincian yang memadai dengan menentukan tujuan proyek, kegiatan proyek, dan spesifikasi proyek yang jelas. Jika tujuan ini tercapai dengan baik, maka stabilitas jangka panjang organisasi dapat dijamin [5]. Newbold menyatakan bahwa CPM merupakan teknik untuk menganalisis proyek dengan menentukan urutan tugas terpanjang (atau urutan tugas dengan waktu longgar) melalui jaringan proyek [6]. Nicholas (2004) menyatakan CPM menggunakan pola jaringan terpadu yang terdiri dari serangkaian kegiatan satu dengan lainnya yang