Jurnal Akuntansi Multiparadigma JAMAL Volume 5 Nomor 1 Halaman 1-169 Malang, April 2014 ISSN 2086-7603 e-ISSN 2089-5879 149 AKUNTANSI BANTENGAN: PERLAWANAN AKUNTANSI INDONESIA MELALUI METAFORA BANTENGAN DAN TOPENG MALANG Amelia Indah Kusdewanti 1)* Achdiar Redy Setiawan 2) Ari Kamayanti 1) Aji Dedi Mulawarman 1) 1) Universitas Brawijaya, Jl. MT. Haryono 165, Malang. 2) Universitas Trunojoyo Madura Surel: amelia_indah15@yahoo.co.id Abstrak: Akuntansi Bantengan: Perlawanan Akuntansi Indonesia melalui Metafora Kesenian Bantengan dan Topengan Malang. Tujuan studi ini meng- usulkan bahwa melakukan perlawanan pada ‘kuasa’ yang sedang berperang merupakan usaha yang melelahkan. Bentuk perlawanan akan lebih bermakna bagi kepentingan rakyat apabila dilakukan oleh dan bagi rakyat. Pendekatan metafora digunakan untuk menelaah perang kuasa. Studi literatur mendalam serta wawancara dengan komunitas budaya, budayawan serta sejarawan meng- konirmasi bahwa metafora Bantengan dan Topeng Malang tepat untuk meng- gambarkan kondisi ini. Artikel ini menunjukkan bahwa keberadaan Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia (MAMI) adalah bentuk perlawanan Akun- tansi Bantengan yang menjadi motor penggerak pembangunan ilmu akuntansi menuju akuntansi Indonesia yang merdeka. Abstract: Bantengan Accounting: The Counterforce of Indonesian Account- ing through Bantengan and Topengan Malang Art as Methapor. This study proposes that the counterforce of this war should be done by the people and for them. The methapor is used to examine the war. In-depth study of literature and interviews with cultural communities, as well as cultural historians conirm that Bantengan and Topeng Malang appropriate to describe this condition. This arti- cle shows that the presence of Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia (MAMI) as a form of Bantengan Accounting battle is a driving force toward the free- dom of Indonesian Accounting. Kata kunci: Bantengan, Topeng malang, MAMI, Metafora, Perang kuasa “Titenana yen mbesok wes ana sarpo kantaka Handoko Brang saka wetan dalane, sinuwuk ubrug wahana jati. Amedar galeh jaya pamudya kaluhuruneng partiwi. Iku kang dadi titi wanci kawitane Negara pranata utama ing arum. Gelar anggelareng hambudaya daya manunggaleng ratu adil. Ya kang dadi amudyaneng budaya Jawa.” “Ingatlah jika nanti ada barisan Banteng Merah yang sangat be- sar dari arah timur, kondisi ini yang sudah dinanti sejak lama. Yang * Penulis berasal dari berbagai latar belakang tetapi tetap memiliki “garis darah” Malang. Amelia Indah Kus- dewanti adalah keturunan “rakyat” asli Pagak dan dibesarkan di Malang. Achdiar Redy keturunan Lawang dan Sumenep. Ari Kamayanti masih me- miliki “darah” Tumpang dan Lamon- gan, namun tidak pernah dibesarkan di Malang. Aji Dedi Mulawarman berdarah Turen-Tenggarong sejak la- hir di Malang, kecuali SMA (di Sura- karta) dan Kuliah (di Yogyakarta). Pagak, Lawang, Tumpang dan Turen merupakan empat kecamatan di wilayah Kabupaten Malang. Kombi- nasi penulis yang beragam memberi perspektif luas atas kesenian Topeng Malang dang Bantengan yang menjadi metafora untuk menelaah realita kua- sa akuntansi, tanpa lepas dari nilai Malang asli.