Volume 2 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721 55 HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SITI FATIMAH MAKASSAR Sitti Maemunah 1 , Hasifah 2 , Sri Suryani 3 1 STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2 STIKES Nani Hasanuddin Makassar 3 Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK Menurut WHO, setiap tahun diperkirakan 40 – 70 kasus abortus per wanita usia reproduksi terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan umur ibu, jumlah persalinan dan status perkawinan dengan kejadian abortus di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasi dengan rancangan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien abortus yang dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar dengan total 389 kasus.Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling, didapatkan 197 responden sesuai dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.Data yang telah terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan komputer program microsoft excel dan program statistik (SPSS) versi 18.0. Analisis data mencakup analisis univariat dengan mencari distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi square(p<0,05). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (signifikan) antara umur ibu dengan kejadian abortus(p=0.000), adanya hubungan antara jumlah persalinan dengan kejadian abortus(p=0.001), dan terdapat pula hubungan antara status perkawinan dengan kejadian abortus(p=0.000). Kata Kunci : Umur Ibu, Jumlah Persalinan, Status Perkawinan, Kejadian Abortus. PENDAHULUAN Kematian ibu merupakan tolak ukur kemampuan pelayanan kesehatan di suatu Negara. Penyebab kematian ibu seperti kehamilan yang dikendaki atau yang tidak dikendaki, komplikasi kehamilan dan peralinan seperti pendarahan, preeklamsia dan eklamsia, infeksi emboli air ketuban, dan anestesi. Selain itu angka kematian tersebut disebabkan juga oleh perdarahan pasca partus empat kali lebih banyak dibandingkan perdarahan antepartu (Johanes,2009). Masalah abortus merupakan salah satu penyebab perdarahan yang terjadi pada kehamilan trisemester pertama dan kedua. Perdarahan ini dapat menyebabkan berakhirnya kehamilan (Wiknjosastro,2006). Abortus dapat terjadi secara spontan maupun provokatus. Abortus provokatus merupakan cara tertua yang dilakukan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan. Abortus yang bedasarkan pertimbangan medis, misalnya bila kehamilan itu diteruskan dan membahayakan keselamatan atau nyawa ibu yang bersangkutan.Atas pertimbangan medik maka janin yang dikandung dapat digugurkan.Atau ibu mengidap suatu penyakit, misalnya mengalami gangguan jiwa atau jantung. Pengguran berlatar belakang medis pun ada ketentuannya yaitu dengan catatan bahwa janin yang dikandungnya belum berumur 12 minggu (Firman, 2009). Aborsi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan. Makna aborsi lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim.Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau umur kurang dari 22 minggu (Sarwono,2008). Definisi lain abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun, spontan maupun buatan, sebelum janin mampu bertahan hidup. Batasan ini berdasar umur kehamilan dan berat badan (Handono,2009). Menurut WHO (2005) setiap tahun diperkirakan 40-70 kasus abortus per 1000 wanita usia reproduksi terjadi setiap tahun diseluruh dunia. Diperkirakan 15 juta remaja yang mengalami kehamilan setiap tahunnya di seluruh dunia, sekitar 60% diantaranya tidak ingin melanjutkan kehamilan tersebut sehingga berupaya mengakhirinya dengan secara abortus. Frekuensi kehamilan yang tidak diingini yang itu dipatikan akan meningkatkan jasa pelayanan abortus (Data WHO, 2005).