BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesulitan belajar pada siswa adalah suatu hal yang wajar dan sering terjadi, namun begitu bukan berarti hal ini dibiarkan begitu saja. Sebagai seorang guru, maupun calon guru serta pemerhati pendidikan harus melakukan berbagai kajian dan usaha dalam rangka mengatasi kesulitan belajar pada siswa. Hal ini penting dilakukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal pada seluruh siswa atau peserta didik. Dalam dunia pendidikan, istilah "Diagnosis" merupakan istilah yang relatif baru. Walaupun dalam dunia kedokteran sudah lama dikenal dan bukan istilah asing lagi. Dalam kegiatan diagnosis, seorang dokter mengadakan wawancara, mengukur dan memeriksa denyut jantung, tekanan darah dan sebagainya kepada pasiennya. Kemudian seorang dokter memberikan saran-saran, nasehat-nasehat, menyuntik obat, memberi resep kepada pasien agar obat diminum. Ini merupakan langkah tindak lanjut sebagai usaha penyembuhan. Ilustrasi tersebut diatas sesuai dengan pendapat W.J.S. Poerwadarminto yang mengatakan, bahwa diagnosis berarti penentuan sesuatu penyakit dengan menilik atau memeriksa gejala. Istilah ini biasanya digunakan dalam ilmu kedokteran (W.J.S. Poerwadarminto: 1982). Dalam dunia pendidikan arti "diagnosis" tidak banyak mengalami perubahan, yaitu diartikan sebagai usaha- usaha untuk mendeteksi, meneliti sebab-sebab, jenis-jenis, sifat-sifat dari kesulitan belajar seorang murid. Dengan demikian semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosis. Adapun landasan pemikiran perlunya diagnosis dan pemecahan kesulitan belajar bagi murid-murid sebagai berikut: 1. Setiap murid hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan kecerdasan, bakat dan minatnya. 2. Adanya perbedaan-perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang fisik serta sosial masing-masing murid, maka kemajuan belajar murid dalam satu kelas mungkin tidak sama. Ada murid yang cepat, biasa, dan ada yang lambat. 3. Sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberikan kesempatan kepada murid untuk maju sesuai dengan kemampuan sendiri. Pada waktu diadakan evaluasi akan nampak adanya sejumlah murid yang belum berhasil mencapai 1