55 MATAN, Edisi 102, JANuAri 2015 Plesir P enelitian berjudul How Islamic are Islamic Countries? yang dilakukan Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari pernah menyebut Selandia Baru sebagai negara yang cukup Islami. Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal internasional Global Economy Journal, negara Kiwi ini ditempatkan sebagai negara paling Islami di urutan satu (tahun 2010) dan enam (2014) dari sampel 208 negara. Berikut catatan intelektual muda Muhammadiyah, DR Zakiyuddin Baidhawy, yang berkunjung ke negeri ini (17/10-14/12) Muslim adalah kelompok agama yang berkembang paling pesat di Selandia Baru dengan populasi meningkat enam kali lipat antara 1991 dan 2006. Sebagian besar (77%) Muslim lahir di luar negeri, dengan proporsi terbesar adalah India (29%) dan Timur Tengah (21%) seperti Arab, Iran dan Irak (Kementerian Pembangunan Sosial, 2008). Selandia Baru telah menjadi tuan rumah bagi kaum imigran Muslim selama lebih dari satu abad, meskipun hanya sedikit pengetahuan tentang migrasi itu dimulai kali pertama. Imigran dari Asia Timur dan Selatan, sejauh yang diketahui, mereka sangat sedikit. Mereka datang secara individu, bukan kelompok- kelompok keluarga. Mereka adalah para penambang dan mungkin pelaut yang tiba di pantai Selandia Baru. Muslim Selandia Baru mewakili keragaman latar belakang orientasi agama, etnis dan kelas dan pendidikan. Pada sisi agama, ada pembagian antara Sunni dan Syi’ah, dan pembagian antara mereka yang menegaskan perayaan dan kebiasaan popular dan orang-orang yang menekankan Islam seperti yang disajikan dalam teks-teks otoritatif dan menilai banyak kebiasaan rakyat sebagai bid’ah yang tidak memiliki landasan. Juga, ada pembagian antara mereka yang bersikeras pada interpretasi liberal atas aturan dan ajaran Islam, dan juga ada yang sering disebut ‘fundamentalis’, ‘Salai’ atau bahkan ‘Wahhabi’, yang bersikeras pada interpretasi yang ketat. Muslim Selandia Baru sekarang mencerminkan asal-usul dan hamparan geograis yang cukup besar merentang dari Maroko di Barat hingga Indonesia dan Filipina di Timur, dan dari Asia Tengah dan Balkan di Utara hingga sub-Sahara Afrika di Selatan. Dalam konteks Selandia Baru, kami menemukan bahwa komunitas Muslim kurang vokal daripada di tempat lain, dan jarang membuat berita utama yang sensasional. Meskipun busana Muslim dan bangunan Islam sekarang mulai tampak secara visual, dan menambah warna-warni lanskap perkotaan, masyarakat Muslim secara keseluruhan bersifat low proile. Mayoritas Muslim di Selandia Baru saat ini adalah kaum imigran yang relatif baru. Di antara mereka terdiri dari keturunan imigran dari dekade- dekade sebelumnya; dan beberapa di antaranya adalah orang-orang konversi dari Pakeha dan Maori. Statistik yang ada tidak dapat menyebutkan secara pasti kuantitas kaum Muslim imigran karena sensus tidak memaksa orang untuk menyatakan ailiasi agama. Meskipun demikian kaum Muslim bukanlah minoritas terkecil di negara ini. Mereka berkumpul di pusat-pusat perkotaan bagian utara – sekitar 20.000 sampai 25.000 di Auckland, di mana mereka membentuk elemen penting dari Muslim di Negeri Kiwi Sekuler-Islami DR Zakiyuddin Baidhawy berdiskusi dengan Dr John Hope, Ketua International Ofice University of Auckland.