160 PENGARUH NET SALES, TOTAL ASSETS TURN OVER, SUKU BUNGA KREDIT DAN KURS USD TERHADAP EARNING PER SHARE (EPS) PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF DAN KOMPONEN YANG TERCATAT PADA BURSA EFEK INDONESIA (BEI) Oleh : Septian Yudha Kusuma ABSTRAK Earning per Share (laba per lembar saham) adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap lembar sahamnya yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Salah satu alasan investor membeli saham adalah untuk mendapatkan deviden, jika nilai EPS kecil maka kecil pula kemungkinan perusahaan untuk membagikan deviden. Maka dapat dikatakan investor akan lebih meminati saham yang memiliki EPS tinggi dibandingkan saham yang memiliki EPS rendah. Penelitian mengenai EPS sejauh ini lebih banyak mengarah pada faktor-faktor fundamental perusahaan, namun pada penelitian ini ditambahkan dua faktor makro yang diduga berpengaruh terhadap EPS yaitu Suku Bunga Kredit dan Kurs USD. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh net sales, total assets turn over, tingkat suku bunga kredit dan kurs valuta asing terhadap EPS pada perusahaan yang tercatat pada BEI tahun 2007-2011. Populasi dalam penelitian ini yaitu sebanyak perusahaan yang tercatat dalam BEI. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 15 perusahaan Otomotif dan Komponen dari tahun 2007-2011, sehingga didapatkan sampel sebanyak 67. Berdasarkan analisi yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai bahwa: (1) Net sales terbukti secara signifikan mempengaruhi EPS. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikasi sebesar 0.000 < 0,050. (2) Total assets turn over (TATO) tidak terbukti secara signifikan mempengaruhi EPS. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikasi sebesar 0.390 > 0,050. (3) Suku bunga kredit terbukti secara signifikasn mempengaruhi EPS. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikasi sebesar 0.019 < 0,050. (4) Kurs USD tidak terbukti secara signifikan mempengaruhi EPS. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikasi sebesar 0.380 > 0,050. Kata kunci: earning per share, net sales, total asset turn over, tingkat suku bunga kredit, kurs USD. PENDAHULUAN Pasar modal yaitu situasi dimana para penjual dan pembeli dapat melakukan negosiasi terhadap pertukaran suatu komoditas atau kelompok komoditas, dan komoditas yang dipertukarkan disini adalah modal (Ang, 1997: 3.3). Modal disini dapat berupa modal hutang (obligasi) dan modal ekuitas (saham). Pasar modal memiliki peranan yaitu sebagai sarana untuk penyaluran dana bagi pihak yang kelebihan dana dan pihak yang memerlukan dana. Untuk dapat melakukan transaksi di pasar modal, maka perusahaan harus melakukan langkah go public. Ang (1997: 2.6) mengemukakan bahwa beberapa keuntungan yang diperoleh perusahaan go public antara lain: (1) Memperoleh dana murah dari basis yang sangat luas untuk keperluan penambahan modal, yang tentunya dapat dimanfaatkan perusahaan untuk keperluan pengembangan usaha, membiayai berbagai rencana investasi termasuk proyek yang memiliki resiko tinggi. (2) Memberikan likuiditas dan nilai pasar terhadap kekayaan perusahaan yang merupakan nilai ekonomis dari jerih payah para pendiri (founder). Melalui pasar sekunder, para pemegang saham pendiri setiap saat bisa menjual sebagian atau seluruh sahamnya (likuiditas). (3) Mengangkat pandangan masyarakat umum (image) terhadap perusahaan sehingga menjadi incaran para profesional sebagai tempat untuk bekerja. Daya tarik para profesional maupun manajer terhadap perusahaan public adalah kelangsungan hidup terjamin dan evaluasi jenjang karir yang lebih obyektif. (4) Pemegang saham, khususnya individu akan cenderung menjadi konsumen yang setia kepada produk perusahaan, karena adanya rasa ikut memiliki perusahaan (sense belonging). (5) Perusahaan publik menikmati secara cuma-cuma promosi melalui media massa, terutama perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan, likuid dan pemilikan sahamnya tersebar luas serta kapitalisasi yang besar.