138 Metode Design Thinking dalam Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Sunan Drajat, Lamongan) F. Priyo Suprobo 1 , Diana Suteja 2 , Ririn Dina M. 3 , Arief Budijanto. 4 1,2,3,4 Fakultas Teknik, Universitas Widya Kartika 1 suprobopriyo@gmail.com, 2 sutejadiana@yahoo.co.id Intisari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai salah satu jenis karya tulis ilmiah yang dijauhi para guru perlu pendekatan baru dalam pelaksanaannya, yakni metode design thinking. Langkah discovery, interpretation dan ideation dilaksanakan dalam tahapan Perencanaan PTK. Langkah experiment dijalankan dalam tahapan Tindakan & Pengamatan sekaligus, yang kemudian dilanjutkan dengan tahapan Refleksi, dimana dilakukan langkah evolution untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Secara umum terjadi peningkatan yang signifikan dalam hal metode design thinking ini dapat mengembangkan potensi para guru dalam pelaksanaan PTK. Namun, melalui uji dua sampel berpasangan wilcoxon ditemukan bahwa dari 9 (sembilan) aspek yang diukur, tercapai 6 (enam) aspek, yakni kualitas perencanaan riset, penemuan masalah, aksi solusi, kualitas umpan balik, keberhasilan dan keberlanjutan. Sementara 3 (tiga) aspek yang lain, yakni kualitas interpretasi, kolaborasi/partisipatif dan refleksi belum tercapai meskipun menunjukkan selisih peningkatan skor prosentase. Keywords design, thinking, penelitian, tindakan, kelas, action, research. I. PENDAHULUAN Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah salah satu jenis Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berbasis penelitian. Dan mengapa KTI ini menjadi salah satu tolak ukur kualitas para guru? Hal ini dikarenakan guru dengan profesinya di bidang akademik akan ditentukan seberapa tinggi tingkat kepakaran ilmu yang diampunya dan untuk mengukurnya tentunya adalah hal yang wajar, bila indikatornya adalah hasil pola pikir ilmiahnya yang tertuang dalam KTI. Hal ini senada juga disampaikan dalam [5] bahwa PTK mutlak sampai kapan pun akan relevan untuk diberikan kepada para guru karena 1) melibatkan semua elemen, baik guru, murid dan lingkungan belajar sekolah itu sendiri, 2) semakin meningkatkan keahlian & pelayanan para guru dalam menunjang profesionalismenya, 3) seiring jam terbang, para guru juga akan cepat mendiagnosa kendala-kendala kelas yang ditemui sedari awal. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa PTK bagi sebagian guru menyebutnya sebagai hal yang gampang-gampang susah? Gampang kalau sudah sering melakukannya dan susah kalau belum terbiasa. Hal ini dikarenakan PTK tidak hanya berbicara pengetahuan saja melainkan juga ketrampilan untuk memahami suatu permasalahan dan kemudian mengembangkan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, Universitas Widya Kartika sebagai bagian dari lembaga pendidikan tinggi yang peduli atas pendidikan dasar dan menengah, terpanggil untuk bersama para guru mengembangkan diri dalam meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Suatu pendekatan/metode yang mudah dipahami dalam konteks penemuan, pengembangan sampai pencapaian solusi coba ditawarkan kepada para kelompok guru di Madrasah Aliyah (MA) Sunan Drajat di Lamongan, yakni metode Design Thinking. Metode ini adalah seperangkat alat yang coba diterapkan kepada para kelompok guru MA Sunan Drajat ini guna membantu penyelesaian permasalahan mereka dalam kegiatan PTK. Dengan demikian permasalahan utama yang coba dipecahkan adalah sejauhmana metode design thinking ini dapat mengembangkan potensi para guru dalam pelaksanaan PTK. Untuk menjawabnya, maka diperlukan beberapa penetapan tujuan dalam tulisan ini, diantaranya adalah: a. Mengetahui tingkat pemahaman dan hasil kinerja antara sebelum dan sesudah proses pelatihan PTK dengan metode design thinking. b. Mendapatkan gambaran secara utuh atas hasil pelaksanaan pelatihan PTK, dalam hal apa yang telah dicapai dan apa yang belum tercapai melalui metode design thinking. II. TELAAH PUSTAKA A. Design Thinking Metode Design Thinking ini sebenarnya bukan hal baru. Seperti halnya dijelaskan oleh De Bono dalam [6] bahwa pola berpikir kreatif (creative thinking) sebagai komponen penting design thinking sudah seharusnya dilihat untuk menjadi bagian penting pengajaran di semua sektor seperti halnya critical thinking dan jangan dipandang sebagai pemberian mistik yang tidak dapat diajarkan. Hal inilah yang membedakan bagaimana pola creative thinking atau design thinking selalu mendasarkan pada persepsi, posibilitis, dan praktek, sementara di critical thinking selalu mendasarkan pada analisis, fakta temuan, dan justifikasi. Dalam penerapannya, pendekatan Design Thinking dipandang sebagai metode, pola pikir atau