Ritual Kematian di Kampung Terakhir Gunung Gandang Dewata Oleh : Akhmad Qashlim Diposting oleh : Administrator Sub Menu: Dibalik Peristiwa - Dibaca: 2345 kali http://www.kabarmandar.com/berita-310-ritual-kematian-di-kampung-terakhir-gunung- gandang-dewata.html RELAKANLAH aku pergi untuk mencari hidup yang sebenarnya dan andaipun aku tak kembali maka maafkanlah semua kesalahanku. Itulah sepenggal catatan yang dia tuliskan di akun media sosial miliknya setahun sebelum musibah itu mejemputnya. Selamat tidur saudara, walau dingin dan sepi tengah memelukmu. Sesungguhnya dia tidak pergi tapi dia pulang, sepeninggalnya, nama Gunung Gandang Dewata menjadi semakin dikenal secara Nasional. Pagi itu cuaca dingin seakan menusuk hingga ke tulang dan bau tanah basah masih tercium begitu pekat di indera penciuman semua anggota tim yang satu persatu terbangun dari tidurnya dan dengan ligat mempersiapkan diri untuk menjemput Jenazah almarhum Farhan, sebagaimana diberitakan KabarMandar.Com Kamis, 21 Februari 2013 - 16:25:17 WIB lalu yang kala itu, sudah berada di Pos tiga. Perjalanan masih lumayan jauh kurang lebih lima jam harus di tempuh untuk dapat tiba dikampung terakhir dengan kondisi medan yang terjal dan licin. Namun karena bantuan secara sukarela dari warga kampung terakhir yang ikut menggotong jenazah Farhan membuat perjalanan dapat ditempuh lebih cepat dari biasanya. Haus dan lapar seakan tidak terasa lagi pada tenggorokan dan perut, lelahpun sepertinya telah habis pada tubuh orang-orang yang ada di kaki Gunung Gandang Deawata saat itu. Rasa haru namun harus tetap semangat tetap tertanam dalam diri kami. Ya, solidaritas, kekompokan dan kerjasama semakin kental kala itu. Kami semakin sadar bahwa persaudaraan lahir tidak mesti dari rahim yang sama. Memasuki kampung terakhir ketua adat, pemerintah desa, pemerintah kecamatan bahkan kabupaten, saudara-saudara sesama pecinta alam serta warga yang sebagian dari mereka menggunakan pakaian adat telah menunggu dan menjemput kami. Kami tertawa, kami bercanda, seakan kami berada pada satu acara meriah yang mempertemukan pecinta alam se indonesia. Namun kami sadar dan hadir perasaan menyesal, kenapa ini harus terjadi. Kenapakita dipertemukan momentum duka yang menyayat. Suasana desa begitu mencekam,