1 MARJINALISASI JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA (JAI) DAN KONSTRUK KEBERADABAN CIVIL SOCIETY 1 Oleh : Catur Wahyudi (Dosen FISIP Universitas Merdeka Malang) E-mail : caturwahyudi_2006@yahoo.co.id Abstrak Artikel ini mengungkap tentang “marjinalisasi JAI dan konstruk keberadaban civil society”. Kajian ini menunjukkan bahwa ketahanan JAI dibangun atas kekuatan nilai-nilai keberadaban (civility), faktanya mampu mengembangkan eksistensinya dalam kondisi tertekan atau terancam sekalipun. Hal ini didasarkan pada pengungkapan atas fakta-fakta kasus JAI sebagai realitas komunitas Islam marjinal dan sekaligus menjadi bagian dari global civil society. Beberapa fakta temuan nampak bahwa basis nilai-nilai civility JAI dalam merespon tekanan-tekanan, memberikan pengkayaan nilai-nilai berbasis pada kepribadian Ahmadi, yaitu : „al-adabu al-ilahiy’, orientasi dan motif kejuangan bernilai transenden, dan pranata muba>halah, yakni berhakim kepada Tuhan atas perbedaan paham/keyakinan. Kata kunci : marjinalisasi, Ahmadiyah, dan keberadaban civil society PENDAHULUAN Artikel ini menyajikan diskusi analitik antara fakta-fakta penelitian yang dihasilkan dan realitas teoritik peradaban civil society komunitas Islam marjinal, berbasis pada kasus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Di Indonesia, konsep civil society dalam perspektif Islam pertama kali diperkenalkan oleh Amien Rais pada saat Simposium Nasional Cendekiawan Muslim tahun 1990 (saat kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia/ICMI), yaitu suatu masyarakat yang memungkinkan munculnya berbagai organisasi, inisiatif dan rangkaian aksi sosial dari bawah, bukan dari pemegang otoritas kekuasaan. 2 Esensi spiritual religius yang terus dikuatkan dalam tatanan sosial tersebut adalah masyarakat berbudi luhur atau berakhlak mulia, mengedepankan keutamaan hidupnya dalam membela kebenaran dan keadilan, sehingga nilai kebaikan manusia merupakan titik tolak harapan manusia untuk senantiasa memperoleh pertolongan Tuhan (Allah SWT). 3 Menurut Rustam Ibrahim, 4 pemaknaan konsep civil society dapat dipilahkan dalam 2 (dua) kategori. Pertama, makna yang diartikulasikan menurut aspek vertical, yaitu : mengindikasikan 1 Disampaikan pada Forum Simposium Nasional Dinamika Sosial dalam Perspektif Lintas Budaya, LP2M Universitas Merdeka Malang, 11 Oktober 2014 2 M. Amien Rais, “Transformasi Masyarakat dalam Perkembangan Global”, Prosiding Simposium Nasional Cendekiawan Muslim, Membangun Masyarakat Indonesia Abad XXI (Jakarta : ICMI, 1991), 275. 3 Nurcholis Madjid, “Menuju Masyarakat Madani”, Ulumul Qur’an, Nomor 2 Tahun VII , 3-4. 4 Rustam Ibrahim, Indonesian Civil Society 2006 (Jakarta : YAPPIKA, 2006), 20-21 : Aspek vertikal pemaknaan konsep masyarakat madani dikutip dari pandangan Sujatmiko (2003), misalnya terkait dengan eksistensi dan gerakan LSM/NGO; aspek horizontal dimaksud dikutip dari pemikiran Nurcholis Madjid (1999), dimana terminologi masyarakat madani (madani>yyah) diinspirasikan dari konsep masyarakat warga pada jaman Rasulullah Muhammad