- 1 - JOINT CONVENTION BALI 2007 The 36 th IAGI, The 32 nd HAGI, and the 29 th IATMI Annual Convention and Exhibition Bali, 13-16 November 2007 Bencana Geologi dalam “Sandhyâkâla” Jenggala dan Majapahit : Hipotesis Erupsi Gununglumpur Historis Berdasarkan Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah Jawi; Folklor Timun Mas; Analogi Erupsi LUSI; dan Analisis Geologi Depresi Kendeng-Delta Brantas Geological Disaster on the Falls of Jenggala and Majapahit Empires : A Hypothesis of Historical Mud Volcanoes Eruptions Based On Historical Chronicles of Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah Jawi; Folklore of Timun Mas; Analogue to the Present LUSI Eruption; and Geological Analysis of the Kendeng Depression – Brantas Delta Awang Harun Satyana (BPMIGAS) SARI Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Majapahit berpusat di delta Brantas, Jawa Timur pada sekitar abad ke-11 sampai awal abad ke-16. Perkembangan, kemajuan, dan keruntuhan kedua kerajaan ini sedikit banyak berkaitan dengan proses-proses geologi yang terjadi pada delta Brantas. Kerajaan Jenggala hanya bertahan sekitar 50 tahun, runtuh pada tahun 1116 M, dan sejak itu wilayahnya menjadi bagian Kerajaan Kediri. Kerajaan Majapahit berawal pada 1293 M, maju dalam hampir seratus tahun pertama, mundur, runtuh pada 1478 M, menjadi bawahan Kerajaan Demak, dan berakhir pada 1518 M. Berdasarkan penafsiran beberapa sumber sejarah (Kitab Pararaton, Serat Kanda, Babad Tanah Jawi), cerita rakyat, kondisi geologi wilayah Jenggala dan Majapahit, dan analogi terhadap semburan lumpur panas di Sidoarjo (LUSI) yang berlokasi di dekat pusat kerajaan Jenggala, terbuka kemungkinan bahwa kedua kerajaan tersebut telah mengalami kemunduran yang berarti akibat bencana alam berupa erupsi gunung-gununglumpur sebelum dianeksasi oleh kerajaan-kerajaan pesaingnya. Hipotesis bencana erupsi gununglumpur pada masa Jenggala dan Majapahit didasarkan dan diteliti melalui lima tesis : (1) tesis bencana ”banyu pindah” 1334 M dan bencana ”pagunung anyar” 1374 M yang tercatat pada Kitab Pararaton; (2) tesis suryasengkala peristiwa keruntuhan Majapahit ”sirna ilang krtaning bhumi” yang berarti tahun1400 Saka/1478 M, tercatat dalam Serat Kanda dan Babad Tanah Jawi, dan secara leksikal dan gramatikal dapat didefinisikan ulang sebagai ”musnah hilang sudah selesai pekerjaan bumi” (berkonotasi kemusnahan akibat bencana kebumian/geologi); (3) tesis peristiwa ”guntur pawatugunung” pada tahun1403 Saka/1481 M yang telah banyak ditafsirkan para ahli sebagai bencana letusan gunungapi (atau dalam hal ini gununglumpur) yang berkaitan dengan ”sirna ilang krtaning bhumi” berdasarkan saat kejadian yang berdekatan atau sebenarnya bersamaan; (4) tesis folklor ”Timun Mas” yang berkembang pada masa Jenggala dan Kediri yang isi ceritanya