PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. 31 NO. 3 2012 158 Keragaman Karakter Varietas Lokal Padi Pasang Surut Kalimantan Selatan Raihani Wahdah 1 , Bambang F. Langai 1 , dan Trias Sitaresmi 2 1 Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Jalan A Yani Km 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan Email: raihn_pascagro@yahoo.com; bflagro@yahoo.com 2 Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi Jalan Raya 9 Sukamandi, Subang, Jawa Barat Email : sitares_trias@yahoo.com Naskah diterima 5 Oktober 2011 dan disetujui diterbitkan 9 November 2012 Variability among Local Rice Varieties of Tidal Swamp Area in South Kalimantan. Artificial mutation could be used in the formation of base population for selection. Local varieties which have a wide distance of relationship are expected to have a greater opportunity for obtaining more diverse offspring. The purpose of this study was to select five distinct local tidal swamp rice varieties of South Kalimantan that could be used for parental mutation. The study was conducted from March to December 2009. The distance of varietal relationship was estimated by cluster analysis using the SPSS Programme Version 11.5. Selection of the five best varieties was carried out by the Exponential Rank Method (ERM) applying 7 criteria, namely plant height, number of panicles, panicle length, grain weight/panicle, number of grains/panicle, weight of 1000 grains, and grain yield. Results of the cluster analysis based on a 82.5% similarity level showed that diversities of the 40 accessions of local tidal swamp rice in South Kalimantan were spread in four clusters, namely Cluster I (13 varieties), Cluster II (1 varieties), Cluster III (6 varieties) , and Cluster IV (20 varieties). Five varieties that were selected based on the cluster analysis and the ERM were Siam Harli, Siam Unus (Bumi Makmur), Siam Kuatek, Datu, dan Siam Unus (Barambai). Keywords: Local rice varieties, tidal swamp area, mutation. ABSTRAK. Mutasi merupakan langkah awal dalam pembentukan populasi dasar sebelum seleksi. Jika varietas yang dipilih mempunyai kekerabatan jauh, maka lebih besar peluang untuk memperoleh keturunan yang lebih beragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan lima varietas lokal lahan rawa pasang surut Kalimantan Selatan yang akan dimutasi. Penelitian dilaksanakan dari Maret 2009 sampai Desember 2009. Analisis kekerabatan dilakukan dengan analisis gerombol menggunakan program SPSS versi 11,5. Pemilihan lima varietas terbaik dilakukan berdasarkan Metode Pangkat Eksponensial (MPE) dengan menggunakan tujuh kriteria, yaitu tinggi tanaman, jumlah malai, panjang malai, bobot gabah/malai, jumlah gabah/malai, bobot 1000 butir gabah, dan hasil. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan analisis gerombol, keragaman 40 aksesi padi lokal pasang surut Kalimantan Selatan tersebar dalam empat gerombol pada tingkat kemiripan 82,5%, yaitu Gerombol I (13 varietas), Gerombol II (1 varietas), Gerombol III (6 varietas), dan Gerombol IV (20 varietas). Lima varietas yang dipilih berdasarkan analisis gerombol dan MPE adalah Siam Harli, Siam Unus (Bumi Makmur), Siam Kuatek, Datu, dan Siam Unus (Barambai). Kata kunci: Padi lokal pasang surut, keragaman varietas, mutasi. U ntuk memenuhi kebutuhan pangan pada tahun 2050, secara kumulatif diperlukan perluasan areal sawah seluas 6,08 juta ha dan lahan kering 11,75 ha, di samping pemanfaatan lahan terlantar. Lahan terlantar saat ini seluas 30,67 juta ha dan 8,28 juta ha di antaranya cocok untuk sawah. Pemanfaatan lahan terlantar perlu diiringi dengan pengembangan varietas yang mempunyai daya adaptasi tinggi pada lahan suboptimal (Mulyani et al. 2011). Lahan rawa pasang surut merupakan lahan suboptimal yang semakin penting perannya dalam upaya peningkatan produksi padi, mengingat luasnya mencapai 25,29 juta ha. Penyebaran lahan rawa pasang surut cukup luas, di Sumatera, Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Papua (Djaenudin 2008). Namun, pemanfaatan lahan rawa pasang surut menghadapi beberapa keterbatasan, antara lain masalah tanah dan air. Pengembangan lahan rawa harus mengacu kepada tipologi lahan dan tipe luapan karena sangat mempengaruhi cara pengelolaan lahan, termasuk pengaturan pola tanam atau jenis tanaman yang cocok, dan perlu mempertimbangkan kondisi biofisik, tata air mikro, dan ketersediaan modal petani (Sudana 2005). Sebagian lahan rawa hanya ditanami satu kali dalam setahun, antara lain karena genangan yang tinggi sehingga memerlukan tanaman yang tinggi pula, sementara tanaman yang tinggi biasanya berumur panjang. Menurut Sittadewi (2008), untuk keperluan genangan waduk, sebagian sawah pasang surut Rawa Pening hanya ditanami satu kali dalam setahun dan sebagian lahan tidak dapat ditanami pada periode Juli- Maret karena tergenang air. Pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian dilakukan dengan tahapan: 1) identifikasi dan klasifikasi lahan, 2) pemilihan teknologi pengelolaan tanah dan air yang sesuai dengan tipe luapan air dan tipologi lahan, 3) pemilihan komoditas pertanian yang sesuai dari aspek teknis dan ekonomis (Suriadikarta dan Sutriadi 2007).