1 Keragaman ikan sidat tropis ... (Melta Rini Fahmi) ABSTRAK Ikan Sidat merupakan ikan konsumsi ekonomis penting terutama di Jepang dan Eropa. Salah satu daerah yang menjadi tempat penangkapan sidat utama di Indonesia adalah Pelabuhan Ratu. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan keragaman genetik ikan sidat yang masuk ke muara Sungai Cimandiri, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Sampel glass eel ikan sidat dikoleksi dari muara Sungai Cimandiri sebanyak 600 ekor selama empat bulan (Agustus–Desember 2009). Sebanyak 430 ekor glass eel disimpan dalam formalin untuk pengukuran morfometrik dan meristik, dan sebanyak 150 ekor disimpan dalam alkohol absolut, selanjutnya digunakan untuk analisis genetik. Morfometrik dilakukan dengan penghitungan nilai AD (DA = 100 (LD– LA)LT ”1 ) dan struktur pigmentasi ekor. Meristik dilakukan dengan penghitungan ruas tulang belakang ikan sidat. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa nilai AD yang didapat berkisar antara (0–3,7) dikelompokan jenis A. bicolor bicolor, (13,71–19,35), dikelompokan pada jenis A. marmorata dan (4,17–9,52) dikelompokan pada jenis A. n. nebulosa. Namur hasil analisis PCA menunjukkan bahwa ikan sidat yang ditemukan terbagi menjadi empat spesies. KATA KUNCI: glass eel, Sungai Cimandiri, A. bicolor bicolor, A. marmorata, A. n. nebulosa PENDAHULUAN Ikan sidat (Anguilla sp.) memiliki pola daur hidup katadromous artinya mengawali hidup di laut, tumbuh menjadi dewasa di perairan tawar, dan akan kembali ke laut untuk memijah. Selain memiliki pola hidup yang unik, sidat juga populer sebagai makanan yang mewah karena memiliki nilai nutrisi yang baik. Masyarakat Jepang merupakan konsumen sidat terbesar dengan jumlah konsumsi mencapai 100.000 ton per tahun, dan disusul oleh Cina, Korea, Amerika, dan beberapa negara Eropa, seperti Denmark, Perancis, Itali, Belgia, dan Jerman. Pemenuhan kebutuhan konsumsi sidat dunia sebagian besar ± 80% diproduksi melalui kegiatan budidaya. Namun pasokan benih masih bergantung pada usaha penangkapan elver (benih) di muara-muara sungai. Penguasaan pengetahuan tentang daur hidup sidat dan lingkungannya menjadi kunci jumlah merekruitmen elver di muara-muara sungai. Penelitian tentang penyebaran atau distribusi ikan sidat dan telah banyak dilakukan, terutama di daerah subtropis. Seperti Anguilla anguilla dari Eropa, A. rostrata di Amerika dan A. japonica di Jepang. Sampai saat ini telah ditemukan 18 jenis sidat dengan distribusi geografi yang luas meliputi wilayah Indo-Pasifik, Atlantik, dan Oseania. Jika dicermati, daerah distribusi sidat tersebut, berkaitan erat dengan aliran arus panas dari daerah tropis, di mana daerah-daerah yang dilalui arus dingin tidak didiami sidat. Dari ke–18 jenis sidat, hanya 6 jenis yang mendiami daerah subtropis. Berdasarkan dendogram filogeni sidat pada Gambar 2, Anguilla borneensis merupakan jenis sidat yang paling tua (Aoyama, 2001). Itu sebabnya dikatakan bahwa perairan Indonesia merupakan “the origin of the eels (Tsukamoto, 1999). Keberadaan 6 jenis sidat yang mendiami perairan sekitar Indonesia mendukung hipotesa tersebut. Meskipun sidat tropis memiliki jenis yang jauh lebih banyak dan merupakan asal mula sidat dunia, namun pustaka tentang keberadaannya masih sangat kurang. Keenam jenis sidat yang mendiami perairan Indonesia adalah A. borneensis, A. cebesensis, A. interioris, A. obscura, A. bicolor, dan A. marmorata. Dua jenis terakhir merupakan ikan sidat yang memiliki nilai ekonomis penting disisi lain kedua jenis ini tersebar sangat luat luas (dari Samudera India hingga Samudera Pasifik). Karena posisi Indonesia berada di antara kedua benua tersebut maka penelitian pola distribusi kedua jenis ikan ini di Indone- sia sangat penting untuk menjawab pola penyebaran ikan sidat dunia. KERAGAMAN IKAN SIDAT TROPIS (Anguilla sp.) DI PERAIRAN SUNGAI CIMANDIRI, PELABUHAN RATU, SUKABUMI Melta Rini Fahmi dan Rina Hirnawati Balai Riset Budidaya Ikan Hias Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok E-mail: m_rinif@yahoo.com