SEMINAR NASIONAL TEKNIK KIMIA SOEBARDJO BROTOHARDJONO X Program Studi Teknik Kimia UPN “Veteran” Jawa Timur Surabaya, 26 Juni 2013 B.7-1 Pengaruh Suhu Pirolisis terhadap Kadar Air dan Nilai Kalor Char dari Sampah Organik Pasar Segiri Samarinda Novy Pralisa Putri 1) , Imadini Nur Fadilah 2) 1) Program Studi Teknik Kimia 2) Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Jalan Sambaliung No. 9 Kampus Gunung Kelua 75119 Samarinda, Kalimantan Timur e-mail : novylisa@gmail.com , dhininurfadilah@gmail.com ABSTRAK Pasar Segiri merupakan salah satu pasar tradisional di Samarinda yang memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) sebagai tempat penumpukan sampah sebelum diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). TPS. Pasar Segiri Samarinda dapat menampung timbulan sampah pasar sebanyak 5,94 m 3 /hari dengan berat 1.825 kg/hari. Komposisi sampah di TPS tersebut terdiri dari 88,26% sampah organik; 2,94% plastik; 0,3% logam; 0,45% kaca; 3,43% kertas; 0,21% kayu; 2,79% kain. Semua jenis sampah termasuk sampah organik hanya ditumpuk tanpa ada pengolahan apapun. Padahal sampah organik masih dapat diolah menjadi produk yang berguna, salah satunya dengan metode pirolisis yang dapat menghasilkan char. Sebelum dilakukan pirolisis, terlebih dahulu sampah organik yang hanya terdiri dari sayur-sayuran dicacah dengan ukuran kurang lebih 5 cm, lalu dikeringkan dalam ruangan selama kurang lebih 24 jam dan dimasukkan ke ruang pembakaran unit pirolisis sebanyak 1 kg dengan variasi suhu 150 °C, 200 °C, 250 °C, dan 300 °C. Setelah 3 jam, sisa pembakaran (char) dianalisa untuk mengetahui kadar air dengan menggunakan metode ASTM D-3173- 03 dan kalori dengan menggunakan ASTM D-5865-10a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air pada char secara berturut-turut adalah 14,3%; 8,2%; 8,95%; dan 7,9%, sedangkan nilai kalor char yang dihasilkan adalah 4438,5 kkal/kg; 5349 kkal/kg; 5174,5 kkal/kg; dan 4917 kkal/kg. Kata Kunci : Char , Kadar Air, Nilai Kalor, Pirolisis, Sampah organik. 1. PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi dan penduduk Kotamadya Samarinda, Kalimantan Timur yang semakin pesat memicu peningkatan sampah domestik baik sampah organik maupun sampah anorganik. Pasar tradisional merupakan penyumbang terbesar sampah organik di perkotaan seperti Pasar Segiri Samarinda. Menurut Febrina (2011), volume timbulan sampah di TPS Pasar Segiri Samarinda yaitu 5,94 m 3 /hari dengan berat timbulan 1,825 kg/hari. Komposisi sampah di TPS Pasar Segiri Samarinda yaitu sampah organik 88,26%, plastik 2,94%, logam 0,3%, kaca 0,45%, kertas 3,43%, kayu 0,21%, kain 2,79%. Jika dilihat dari komposisi sampah maka jumlah sampah organik lebih besar dibandingkan jenis sampah lainnya Sampah organik merupakan jenis sampah yang mudah terurai sehingga masih bisa untuk diolah sebelum dibuang ke TPS. Pengolahan sampah organik menjadi pupuk melalui composting merupakan salah satu cara untuk mengurangi beban pencemaran pada lingkungan. Sampah organik sayuran juga merupakan salah satu biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubah bentuk menjadi char dan asap cair melalui proses pirolisis. Pirolisis sampah menjadi char sangat menguntungkan terutama dalam rangka menekan volume timbunannya di perkotaan. Char yang dihasilkan sangat bermanfaat sebagai sumber energi/bahan bakar (Matsuzawa et al 2007). Pirolisis adalah pemanasan tanpa atau sedikit oksigen, dimana energi panas mendorong terjadinya oksidasi sehingga molekul karbon yang kompleks terurai, dan sebagian besar menjadi char atau karbon. Pada proses pirolisis ini material biomassa akan mengalami beberapa tahap perubahan secara fisika dan kimiawi. Perubahan fisika yang terjadi meliputi pelunakan, pengembangan dan pemadatan kembali, sedangkan proses kimiawinya yaitu perengkahan, depolimerisasi, dan kondensasi. Haji dkk (2006) membuat char dari sampah kota pada suhu 350 – 510°C selama 5 jam. Pirolisis untuk pembentukan char juga dapat terjadi pada suhu 150 - 300°C (Kartika dan Paramita, 2007). Namun keadaan ini sangat bergantung pada bahan baku dan cara pembuatannya (Qadeer dan Akhtar, 2005). Nilai energi atau kalor yang dihasilkan sangat bergantung pada suhu operasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu pada 150°C, 200°C, 250°C, dan 300°C terhadap nilai kalor dan kadar air pada char yang terbentuk.