Putu Diah Sastri Pitanatri | 1 Komodifikasi Seni Lukis Bali Sebagai Akibat Pariwisata: Perspektif Akulturasi Budaya Terhadap Aspek Sosio Kultural Masyarakat Bali Oleh: Putu Diah Sastri Pitanatri 1. Pendahuluan Keberhasilan Bali dalam menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali telah banyak memberi manfaat kepada masyarakat, melalui penciptaan lapangan kerja, mendorong ekspor hasil‐hasil industri, kerajinan serta sebagai sumber devisa daerah, bahkan dalam beberapa dasa warsa sektor pariwisata telah mampu menjadi generator penggerak (leading sector) perekonomian daerah Bali (Pitana, 1999:45). Keberhasilan tersebut memotivasi kabupaten‐kabupaten dan kota yang ada di Bali untuk mengembangkan serta memanfaatkan potensi wisata yang dimiliki menjadi objek dan daya tarik wisata, baik yang berasal dari alam, dan budaya masyarakatnya. Dalam dasawarsa terakhir, pariwisata telah menjadi generator penggerak dalam pembangunan ekonomi dan menjadi lokomotif dalam perubahan sosial‐ budaya di beberapa daerah tujuan wisata, termasuk Bali. Internasionalisasi lewat pariwisata, khususnya pariwisata budaya dengan industri budayanya membawa masyarakat lokal terjepit diantara dua kutub kekuatan. Di satu pihak, mereka diwajibkan memelihara tradisi dan adat budayanya, yang merupakan komoditas yang dapat ’dijual’ dalam pariwisata. Di sisi lain, internasionalisasi melalui jaringan pariwisata budaya berarti secara sengaja membenturkan kebudayaan lokal tersebut dengan dunia modern. Ini memberikan peluang besar bahwa budaya lokal akan hanyut dalam derasnya gelombang budaya global (Williams 1995 dalam Pitana, 2006). Banyak orang berpendapat bahwa kebudayaan Bali telah mengalami erosi, yang dapat dilihat dari munculnya efek peniruan, tanpa mempertimbangkan kesesuainnya dengan kebudayaannya sendiri, Terjadinya komoditisas 1 terhadap kebudayaan, terjadinya penurunan kualitas hasil kesenian, profanisasi kesenian sakral, profanisasi kegiatan ritual ataupun 1 Prayogi (2012: 51) The need to consume of Balinese culture is a trend in Balinese tourism. This directs people to the commodification of culture Bali in line with giving service that sells tourist