1 Mengapa Yesus Disalibkan? Siapa yang Bertanggung Jawab? Evaluasi Kritis “The Mystery of Crucifixion-nya Louay Fatoohi (Bab 3) Deky Hidnas Yan Nggadas M.Div., dari STT Amanat Agung Jakarta Th.M., in Biblical Studies dari Institut Injil Indonesia Weblog: dekynggadas.wordpress.com Juli 2015  asih dalam rubrik propaganda kontradiksi di sekitar the passion narratives, sebuah propaganda red herring, 1 Bab 3 dari “The Mystery of the Crucifixion” membahas dua isu penting dalam studi mengenai kematian Yesus di salib, yaitu siapa yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus dan mengapa Yesus disalibkan (pp. 39-52). Fatoohi (p. 48) tampaknya mengikuti E.P. Sanders bahwa penyebab paling dekat yang memberi alasan mengapa Yesus dieksekusi adalah prediksi Yesus mengenai kehancuran Bait Suci (Mrk. 13:1-2; Mat. 24:1-2; Luk. 21:5-6) yang dijadikan salah satu tuduhan dalam pengadilan terhadap Yesus (Mrk. 14:58; Mat. 26:61). Saya tidak akan mengomentari proposal di atas lebih lanjut. Mengenai hal ini, saya hanya ingin menyatakan saya sepakat dengan Fatoohi bahwa kiprah Yesus tidak “berbau” politis dan militer (pp. 45-48). Maka, kita tidak dapat menerima “zombie claim 2 yang dibangkitkan kembali oleh Reza Aslan (2013) yang melihat pelayanan Yesus dalam kacamata perjuangan Zelotisme abad pertama. 3 Juga, saya sepakat dengan alarm dari Fatoohi (p. 40, 42, 51) mengenai bahaya anti-Semitisme atas pembacaaan terhadap potret para penulis Injil mengenai peran orang-orang Yahudi di sekitar penyaliban dan kematian Yesus. Sikap rasis semacam ini, pasca penulisan Kitab-kitab Injil, memang ada! Tetapi adalah klaim yang lain dan tidak benar bahwa pada dirinya sendiri potret tersebut dalam Kitab-kitab Injil memang anti-Yudaisme. 4 Craig A. Evans sebenarnya sudah mengingatkan mengenai hal ini. Ketika Evans membahas mengenai historisitas kematian Yesus, ia menyelipkan sebuah peringatan serius, sebagai berikut: But before we turn to Jesus' trial before Pilate, one thing needs to be made crystal clear: the Jewish people should never be blamed for the condemnation and death of Jesus. Not only is such an accusation bad theology, it is bad history. Historically speaking, Jesus was condemned by a very small number of influential Jewish men. He was not condemned by the people as a whole. Even those who cried out for his crucifixion later in the day were but a relatively small number. Theologically speaking,]esus 1 Lih. evaluasi saya terhadap Bab 1 dan Bab 2. 2 Istilah zombie claim di atas berasal dari profesor Larry W. Hurtado ketika meresponsi klaim yang terdapat dalam buku Aslan. 3 Reza Aslan, Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth (New York: Random House, 2013). Aslan membangkitkan kembali sebuah klaim usang yang sudah muncul pada tahun 1960-an oleh: Samuel G.F. Brandon, Jesus and the Zealots: A Study of the Political Factor in Primitive Christianity (Manchester: Manchester University Press, 1967). Sebenarnya Brandon hanya mempopularkan saja klaim yang sebelumnya telah dilontarkan oleh Robert Eisler dan Joseph Klausner. 4 Pada beberapa halaman bukunya yang saya rujuk di atas, Fatoohi secara umum menyatakan bahwa presentasi para penulis Injil mengenai peran sentral orang-orang Yahudi dalam penyaliban Yesus menyebabkan sejumlah pihak menuduh Kitab-kitab Injil mengandung anti-Yudaisme. Fatoohi sendiri memberi kesan bahwa ia melihat hal itu di dalam presentasi para penulis Injil: “Surely, the Christian sources’ incrimination of the Jews and exculpation of Pilate of Jesus’ crucifixion fueled Christian anti-Judaism for a long time” (p. 51). M