EVALUASI PENGEMBANGAN KURIKULUM MADRASAH MINORITAS MUSLIM: TINJAUAN DARI PAPUA BARAT ISMAIL SUARDI WEKKE * Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong E-mail: iswekke@gmail.com, Tlp. (0951) 322 133 Disampaikan dalam Seminar Nasional “Telaah Kritis Kurikulum 2013” Ikatan Alumni Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta Hotel Clarion Makassar, 24 Agustus 2013 ABSTRACT This paper would explain how the curriculum evaluation during the impelementation of 2013 Curriculum. Some conditions are problems should be recognized. On the other hand, it is not the reason to replace the program. In addition, Muslim minority is the environment. Therefore, this is to extend the planning and practice. The big picture of Indonesia through the curriculum that designed in Jakarta would reflect a pieces problem on the other part of Indonesia. This paper offers some change to expand the curriculum innovation. There is a need to suit the grand design and employ it for Sorong and West Papua area. However, the creativity and innovation should arise from teacher and board of management. The major problem is some examples are different from another place to Papua circumstance. This paper highlights some concern of change and adaptation. The development and improvement should be acknowledged in term of material composition enrichment. Finally, the paper proposes some trips and tricks as the foundation of teaching and learning. Keywords: curriculum development, material enrichment, local condition PENDAHULUAN Pendidikan madrasah dalam kerangka sistem pendidikan nasional Indonesia menemukan tempat yang strategis dan khas. Di saat penyelenggaraan pendidikan secara formal belum dilaksanakan secara meluas oleh pemerintah, justru kontribusi masyarakat melalui gerakan pendidikan menemukan tempat yang ideal, memberdayakan, sekaligus sebagai sebuah aksi nyata dalam penguatan kapasitas individual. Ini dimungkinkan karena pengembangan pendidikan berbasis pada masyarakat. Jika di Aceh dikenal meunasah, lalu di Minang dengan nama surau, sementara di Jawa dinamai pondok, semuanya menemukan benang merah yang sama yaitu madrasah. Lembaga inilah yang kemudian juga berkembang dalam skala yang lebih luas. Perkembangan gerakan keislaman menjangkau kawasan Papua. Dengan demikian, ada pula kebutuhan untuk membangkitkan semangat meraih wawasan keilmuan sebagaimana ibadah dan muamalah yang mesti dijiwai pengetahuan agama yang memadai. Peluang ini kemudian mengemuka dalam kebutuhan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang mampu mewadahi kepentingan itu. Pendidikan Islam, kembali diselenggarakan melalui swadaya masyarakat. Dimana dengan keterbatasan pemerintah, justru masyarakat hadir dalam posisi untuk menghadirkan sebuah institusi yang mampu * Instruktur Nasional Kurikulum 2013 Kementerian Agama RI, memperoleh Ph.D. (doctor of philosophy) dari Fakultas Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia dengan dukungan Ford Foundation International Fellowship Program, 2006-2009. Tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong. Sebagian bahan untuk penyusunan makalah ini diselesaikan atas fasilitas dari International Institute for Asian Studies, Belanda dan Lembaga Persada Papua ketika menerima fellowship di Universidade De Macau, China, Juni 2013.