Rajuddin Syamsuddin & Syamsu Adi Rahman BDP-12 Simposium Nasional I Kelautan dan Perikanan, Makassar, 3 Mei 2014 1 Penanggulangan penyakit ice-ice pada rumput laut Kappaphycus alvarezii melalui penggunaan pupuk N, P, dan K Rajuddin Syamsuddin 1 dan Syamsu Adi Rahman 2 1 Kampus UNHAS Tamalanrea, Jl. Perintis Kemerdekaan, Km 10 Makassar 2 Fakultas Perikanan, Universitas Muhammadiyah, Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah HP. 081355565099; Email : rajuddin_syamsuddin@yahoo.com Abstrak Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2010 sampai April 2010 di perairan Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, bertujuan menganalisis dosis pupuk N, P dan K yang tepat untuk menanggulangi serangan penyakit ice-ice rumput laut Kappaphycus alvarezii. Metode budidaya yang digunakan dalam penelitian adalah metode longline. Sebelum ditumbuhkan pada sarana budidaya, bibit dengan berat 10 gram untuk setiap rumpun direndam dengan pupuk N, P, dan K selama 6 (enam) jam. Dosis pupuk dicobakan adalah 4 gram urea /l air + 1 gram TSP /l air +3 gram ZK /l air (perlakuan A), 6 gram urea /l air + 2 gram TSP /l air +5 gram ZK /l air perlakuan B), 8 gram urea /l air + 2 gram TSP /l air +6 gram ZK /l air (pelakuan C), 10 gram urea /l air + 3 gram TSP /l air +8 gram ZK /l air (perlakuan D). Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil Analisis Statistik (ANOVA dan uji Tukey.) menunjukkan perlakuan perendaman bibit dengan pupuk N, P, K dengan dosis 10 gram/l urea + 3 gram/l TSP+8 gram/l ZK mampu menanggulangi penyakit ice-ice hingga 100% pada minggu IV penumbuhan rumput laut K.alvarezii, dan tidak ada penurunan serangan ice-ice bahkan terjadi kematian pada kontrol (tanpa perendaman dengan pupuk). Parameter kualitas air yang terukur, masih dalam batas-batas yang optimal bagi pertumbuhan K.alvarezii. Kata Kunci : Ice-ice, Kappaphycus alvarezii, kualitas air, penyakit, rumput laut, unsur hara Pengantar Rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor merupakan sumber devisa bagi negara dan budidayanya merupakan sumber pendapatan nelayan, dapat menyerap tenaga kerja, serta mampu memanfaatkan lahan perairan pantai di kepulauan Indonesia yang sangat potensial. Secara ekonomi rumput laut merupakan komoditas yang perlu dikembangkan karena produk sekundernya dapat memberi manfaat yang cukup besar pada berbagai bidang industri seperti industri farmasi (salep dan obatan-obatan), industri makanan (agar, alginate, dan karaginan). Rendahnya kualitas dan produksi rumput laut Kappaphycus alvarezii disebabkan oleh timbulnya penyakit. Salah satu penyakit yang dapat menurunkan produksi rumput laut adalah penyakit ice-ice. Gejala penyakit ini adalah berupa timbulnya bintik-bintik atau bercak-bercak putih memucat akibat kerusakan pigmen, dan akhirnya tallus mudah rontok dan hancur. Faktor penting yang menyebabkan terjadinya ice-ice adalah faktor lingkungan perairan berupa parameter kimia air yaitu kekurangan unsur hara yang diperlukan dalam proses metabolisme tumbuhan tersebut. Faktor lainnya adalah adanya pengaruhi oleh faktor biologi seperti adanya infeksi oleh bakteri, virus dan jamur yang kemungkinan juga dipicu oleh kondisi ingkungan seperti arus, suhu, kecerahan, salinitas yang ekstrim. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi serangan penyaklit ice- ice terhadap rumput laut, antara lain melalui penggunaan pupuk untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman tersebut. Meskipun demikian, pengetahuan tentang unsur hara apa dan dengan dosis berapa yang paling tepat ditambahkan masih sangat terbatas.