             274 ISBN: 9789791564960 INDUKSI MUTASI GENETIK MELALUI PENGGANDAAN KROMOSOM KEDELAI(  L. Merr) VARIETAS WILIS DAN TANGGAMUS DENGAN KOLKISIN SECARA   Mastika Wardhani * dan Ni Made Armini Wiendi Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University (IPB), Indonesia Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Tel.: +62 251 8629353; fax: +62 251 8629353. * Corresponding author: mastika.wardhani@gmail.com Abstract The research aimed to study the in vitro genetic mutation induction through chromosome doubling of soybean (" * L. Merr) using colchicine. This research was conducted from January 2011 to October 2011 at Biotechnology and Micro Technique Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, IPB, Bogor. The research was used factorial design which arranged with Completely Randomized Block Design, consisted of 2 experiments. The first experiment was consist of 2 factors, concentrations of colchicine (0.01, 0.02, 0.03, 0.04 and 0.05%) and the long immersion with colchicine (24, 48, and 72 hours). The second experiment was consist of 2 factors, varieties of " * L. Merr (Wilis and Tanggamus), concentrations of colchicine (0.02, 0.04, and 0.05%). The first experiment showed that consentrations of colchicine (0.01, 0.02, 0.03, 0.04, and 0.05%) were significantly affected to induce percentage of callus from cotyledon on modified MS medium containing 10 mg 2,4D. The second experiment showed that the consentrations of colchicine (0.02, 0.04 and 0.05%) were significantly affected to several variables (percentage of explant’s life, the number of shoot, percentage of rooting, the number of chromosome, the number of stomata, the number of chloroplast, and the size of stomata). With a concentration of 0.04% colchicine wasproducedthe highest yield number of chromosomes 2n=160247 than normal chromosomes 2n=40 of both varieties of soybean. ,’ " * 1& # ""$"# "$# 2# & PENDAHULUAN Kedelai (" * L. Merr) merupakan salah satu komoditas pangan utama di Indonesia setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, akan tetapi produksi kedelai dalam negeri menurun seiring dengan merosotnya areal tanam. Demi mencukupi permintaan kedelai dalam negeri yang terus meningkat, pemerintah melakukan impor (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2009). Produksi kedelai pada tahun 2004 mencapai 723.4 ribu ton dan mengalami peningkatan menjadi 808.3 ribu ton pada tahun 2005. Produksi mengalami penurunan pada tahun 2006 menjadi 747.6 ribu ton, bahkan mengalami penurunan drastis menjadi 592.5 ribu ton pada tahun 2007. Menurut Badan Pusat Statistik (2010) produksi kedelai mulai mengalami peningkatan kembali menjadi 775.7 ton pada tahun 2008 dan 974.5 ribu ton pada tahun 2009. Kebutuhan kedelai ratarata Indonesia 2.2 juta ton/tahun. Dari jumlah tersebut, produksi kedelai dalam negeri hanya mampu mencukupi 35−40%, sedangkan 60−65% selebihnya dipenuhi dari impor. Peningkatan produktivitas kedelai di Indonesia sangat membutuhkan ketersediaan varietas unggul yang berpotensi produksi tinggi dan responsif terhadap perbaikan kondisi lingkungan, serta memiliki sifat sifat unggul lainnya (Arsyad, 2000). Upaya untuk mendapatkan kedelai berdaya hasil tinggi dapat ditempuh melalui kegiatan pemuliaan tanaman untuk memperoleh keragaman yang selanjutnya akan diseleksi. Keragaman somaklonal adalah keragaman genetik yang dihasilkan melalui kultur jaringan (Larkin dan Scowcroft, 1981). Keragaman genetik yang terjadi didalam kultur jaringan disebabkan oleh penggandaan jumlah kromosom (fusi endomitosis), perubahan struktur kromosom (pindah silang), perubahan gen dan sitoplasma. Daud (1996) menyatakan bahwa mutasi spontan yang terjadi pada sel somatik antara 0.23%. Keragaman tersebut dapat ditingkatkan dengan pemberian mutagen fisik maupun mutagen kimia. Mutagen yang berasal dari bahan kimia telah lama digunakan dalam melaksanakan program