33 MANIPULASI HORMON DAN SUHU UNTUK PRODUKSI JANTAN HOMOGAMETIK (XX) DALAM RANGKA PENGEMBANGAN BUDIDAYA MONOSEKS BETINA IKAN PATIN Pangasionodon hypopthalmus Hormonal and Temperature Manipulation to Produce Male Homogametic (XX) in Developing Female Monosex Culture of Thai Catfish Pangasionodon hypopthalmus H. Arfah dan O. Carman Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680 ABSTRACT The female of Thai catfish Pangasionodon hypopthalmus had higher growth rate, about 25-30% than male fish, especially on growth phase-2 when the fish get sexually mature. Monosex female fish culture system can increase production efficiency in term of time and cost. Experiment was performed to get male homogametic (XX) that will be used as functional male to produce female monosex (XX) population Result of hormonal and temperature manipulation on larvae shown that the highest percentage of male (67.7%) was obtained by 5 mg/liter 17-α-metiltestosteron treatment with temperature 33 o C. Good temperature for larva rearing was 30 o C. The result of fertility test on male fish was fertile, but progeny test was not performed homogametic (XX) character yet. Keywords: hormonal manipulation, male homogametic XX, monosex, Pangasionodon hypopthalmus ABSTRAK Ikan patin Pangasionodon hypopthalmus betina memiliki laju pertumbuhan lebih cepat sekitar 25- 30% daripada yang jantan, terutama pada fase pertumbuhan II saat ikan mulai matang kelamin. Budidaya ikan dengan sistem kultur monoseks ikan betina diduga akan meningkatkan efisiensi produksi dari segi waktu dan biaya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan jantan homogametik (XX) yang akan dimanfaatkan sebagai jantan fungsional untuk menghasilkan populasi monoseks betina (XX). Hasil manipulasi hormon dan suhu terhadap larva ikan patin menunjukkan bahwa presentase kelamin jantan tertinggi (67,7%) terjadi dengan dosis perendaman dalam hormone 17-α metiltestosteron 5 mg/liter dengan suhu inkubasi 33 o C. Suhu yang baik untuk pemeliharaan larva ialah 30 o C. Hasil uji fertilitas terhadap induk jantan bersifat fertile, namun uji progeny belum dapat menunjukkan sifat homogametik (XX). Kata kunci : manipulasi hormonal, jantan homogametik (XX), monoseks betina, ikan patin, Pangasionodon hypopthalmus PENDAHULUAN Dewasa ini permintaan kebutuhan ikan konsumsi cenderung meningkat. Ikan patin digemari masyarakat pulau Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Kebutuhan untuk konsumsi cenderung semakin meningkat sebagai sumber protein hewani. Seiring dengan meningkatnya biaya produksi seperti pakan maka diperlukan solusi terhadap keadaan seperti ini, yaitu dengan mengefisiensikan factor-faktor produksi. Salah satu cara yang bias dilakukan adalah dengan pemanfaatan keunggulan dari sifat- sifat biologis spesies ikan yang dibudidayakan. Ikan patin betina memiliki laju pertumbuhan yang relative cepat daripada jantan (25-30%) terutama pada fase growing II”, yaitu fase awal matang kelamin. Ikan patin umumnya dikonsumsi pada ukuran besar (1,5-2 kg) karena persentase dagingnya relatif lebih banyak dan Jurnal Akuakultur Indonesia, 7(1): 3338 (2008) Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id