OLOH SALAM : RONA KEHIDUPAN DAYAK ISLAM DI KALIMANTAN TENGAH* Misrita S. Kalang** Abstrak Interaksi Islam dengan budaya, terutama budaya lokal Kalimantan khususnya Dayak memberikan warna tersendiri yang khas. Kekhasan ini tercermin dari budaya oloh salam sebagai manusia pendukungnya di tanah Dayak, Kalimantan Tengah. Beberapa aspek budaya oloh salam yang khas tersebut melipu upacara kehidupan disebut juga gawi belum dan upacara kemaan atau gawi matei serta aspek seni. A. PENDAHULUAN Kalimantan atau pada masa kekuasaan Majapahit dikenal sebagai Tanjungpura, Tembagapura dan Bakulapura 1 merupakan pulau terluas ke-3 di dunia. Kata Tanjungpura atau Kalimantan sendiri disebut beberapakali dalam naskah Negarakertagama yang ditulis pada awal abad-14. Kalimantan memiliki berbagai tumbuhan dan hewan endemis. Dihuni oleh berbagai suku dari berbagai daerah di Nusantara. Namun suku asli Kalimantan sendiri berakar dari satu rumpun yang disebut Protomelayu atau Melayu Lama yang berkembang menjadi Dayak dan Banjar. Akan tetapi munculnya kolonialisme antara pembedaan Dayak dan Banjar 2 menjadi terpolarisasi kerena polik pecah belah Belanda. Akibat dari polik masalalu tersebut hingga kini masih menyisakan 1 * Dipresentasikan dalam annual conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10 tahun 2010 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan ** Kandidat Doktor Linguisk Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta ? Bakula ialah nama Sankrit untuk pohon tanjung di Nusantara. Jadi, Bakulapura sama dengan Tanjungpura 2 Pada dasarnya Dayak dan Banjar pada masa lalu saling mengasihi dan melakukan perannya dalam membangun bangsa dengan posisinya masing-masing. Orang Banjar dikenal lebih suka berdagang sementara orang Dayak lebih suka mencari ikan dan berladang. Sehingga keduanya terkadang dipersepsikan bahwa orang Dayak berbudaya air dan Banjar berbudaya darat walaupun sebenarnya persepsi ini bersifat dak menyejarah atau ahistoris karena kalau ditelusuri lebih jauh justeru Banjarlah yang berbudaya air karena pada masa lalu Banjar dalam berbagai laporan kuno dikatakan berlayar dan bersandar di berbagai bandar-bandar besar sambil berdagang di sekitar Philipina, Thailand dan Malaka. Namun demikian berbicara Dayak tetap dak akan pernah lepas dari budaya Banjar karena secara historis keduanya merupakan dua entas yang menyatu dalam Protomelayu atau Melayu lama.