GENDING TITIPATI : STUDI KOMPARATIF GARAP WAYANGAN DAN GARAP KLENENGAN Oleh: Wahyu Thoyyib Pambayun Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta wahyupambayun@ymail.com PENDAHULUAN Fungsi karawitan selain untuk keperluan sosial (misalnya: upacara pernikahan, khitanan, bersih desa), juga sebagai hubungan layanan seni. Karawitan dapat berdiri sendiri tanpa terikat dengan keperluan sosial maupun dengan jenis kesenian lain, sajian ini disebut dengan klenengan. Adapun sebagai layanan atau hubungan seni yaitu seperti karawitan tari, teater (wayang), ketoprak, dan lain sebagainya. Karawitan yang semula lebih lekat dengan keperluan sosial, upacara tradisi, dewasa ini karawitan telah berkembang pesat, khususnya dalam mendukung kesenian lain seperti: drama tari, dan wayang kulit. Kehadiran karawitan telah menjadi bagian penting yang dibutuhkan dalam pertunjukan kesenian tersebut. Berbicara mengenai karawitan dalam keperluan mandiri dan sebagai hubungan seni adalah menarik untuk dikaji lebih lanjut. Salah satu contohnya adalah satu repertoar gending yang dapat disajikan baik untuk keperluan klenengan dan wayangan. Meskipun pada dasarnya gending- gending klenengan dapat disajikan dalam pertunjukan wayangan atau sebaliknya, akan tetapi dalam penyajiannnya dijumpai sejumlah perbedaan. Baik dalam hal irama, laya, garap ricikan, dan lain sebagainya. Tulisan ini akan mencoba mengkomparasikan satu gending, yaitu Titipati yang disajikan dalam keperluan klenengan dan wayangan. Penelitian komparasi pada intinya adalah penelitian yang berusaha untuk menemukan persamaan dan