BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keanekaragaman hayati merupakan atribut dari suatu daerah dan secara khusus mengacu lebih dalam pada varietas dan di antara organisme hidup, kumpulan organisme hidup, komunitas biotik, dan proses biotik, baik yang terjadi secara alami atau dimodifikasi oleh manusia. Keanekaragaman hayati dapat diukur dalam hal keragaman genetik, identitas dan jenis spesies, kumpulan spesies, komunitas biotik, dan proses biotik, dan jumlahnya (misalnya, kelimpahan, biomassa dan lainnya) dan struktur masing-masing. Hal ini dapat diamati dan diukur pada skala spasial mulai dari paling kecil atau mikro dan habitat yang seadanya pada seluruh biosfer. Indonesia terletak pada garis 6° LU – 11° LS dan 95° BT – 141° BT. Dengan demikian, Indonesia terletak di daerah beriklim tropis dan dilewati oleh garis khatulistiwa. Letak ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Indonesia juga memiliki berbagai jenis ekosistem, seperti ekosistem perairan, ekosistem air tawar, rawa gambut, hutan bakau, terumbu karang, dan ekosistem pantai. Keanekaragaman Spesies, secara historis, spesies merupakan unit dasar deskriptif dari kehidupan di dunia. Saat ini diperkirakan ada sekitar 1,7 juta spesies yang ada, perkiraan konservatif menunjukkan mungkin ada sekitar 12,5 juta spesies. Sebagian besar terdiri dari serangga dan mikroorganisme. Umumnya tingkat spesies dianggap sebagai yang paling alami untuk melihat keragaman seluruh organisme. Selain itu spesies juga merupakan fokus utama dari mekanisme evolusi, dan asal muasal. Kepunahan spesies adalah agen utama dalam mengatur keanekaragaman hayati yang ada. Menurut definisi, organisme yang sangat berbeda satu sama lain dalam beberapa hal memberikan kontribusi lebih untuk keanekaragaman secara keseluruhan daripada mereka yang sangat mirip. Semakin besar perbedaan interspesifik (misalnya, posisi terisolasi dalam hirarki taksonomi), maka kontribusi lebih besar untuk setiap ukuran dari keseluruhan keanekaragaman hayati global. Universitas Sriwijaya