MULIADI ET AL.: GENETIK KETAHANAN PADI TERHADAP PENYAKIT TUNGRO 87 Kendali Ketahanan Genetik Padi terhadap Penyakit Tungro Ahmad Muliadi 1 , Nasrullah 2 , Y.B. Sumardiyono 2 , dan Y. Andi Trisyono 2 1 Loka Penelitian Penyakit Tungro Jl. Bulo 101 Lanrang Rappang Sidrap, Sulawesi Selatan Email: ahmimb@ymail.com 2 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Jl. Flora Bulaksumur, Yogyakarta Naskah diterima 22 Januari 2013 dan disetujui diterbitkan 17 April 2014 ABSTRACT. Genetic Control of Rice Resistant to Tungro Disease. Genetic study of resistant to rice tungro disease was carried out in Indonesian Agricultural Biotechnology and Plant Genetic Resources Institute, Bogor. TN1 rice variety was used as susceptible parent and OBSTG02-124 line as resistant parent. Cross combinations between resistant vs susceptible parents obtained 6 crosses. The study materials consisted of 55 plants of susceptible parent (P1) and 35 plants of resistant parents (P2), 70 F1 plants, 70 F1R plants, 100 BC1-1 plants, 100-BC1-2 plants, and 300 F2 plants. The probable maternal effect was identified by comparing resistant to tungro disease of F1 plants vs. the F1 of their reciprocal crosses, using the t-test. Each population was planted in pot containing 5 kg of soil. Plants were inoculated at 7- 10 days old with virus tungro isolate Subang, using 4-5 green leafhoppers for 5 hours. Visual symptoms were observed based on the Standard Evaluation System for Rice. ELISA test (non Precoated I-ELISA) was performed at 21 days after inoculation, using polyclonal antibodies RTSV (S) and the combined RTBV and RTSV (BS). The results showed that there was no maternal effect on the inheritance of tungro disease resistance. The resistant to tungro in OBSTG02-124 was controlled by two complementary recessive genes. The moderate heritability indicated that the environment play role in determining the degree of resistant to tungro desease. Keywords: Genetic, resistance, rice, tungro disease. ABSTRAK. Studi genetika ketahanan padi terhadap penyakit tungro dilakukan di Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Varietas padi TN1 digunakan sebagai tetua rentan dan galur OBSTG02-124 sebagai tetua tahan. Dari hasil persilangan tetua tahan dan rentan diperoleh enam kombinasi persilangan yang terdiri atas tetua rentan (P1) sebanyak 55 tanaman dan tetua tahan (P2) 35 tanaman, F1 70 tanaman, F1R 70 tanaman, BC1-1 100 tanaman, BC1-2 100 tanaman, dan F2 300 tanaman. Pengaruh tetua betina dalam penurunan sifat ketahanan terhadap penyakit tungro diidentifikasi melalui reaksi ketahanan pada tanaman F1 dan resiproknya (F1R) melalui uji t. Setiap populasi ditanam dalam pot berisi 5 kg tanah. Tamanan berumur 7-10 hari diinokulasi dengan virus tungro isolat Subang menggunakan 4-5 wereng hijau selama 5 jam. Pengamatan gejala visual setiap individu tanaman didasarkan atas skoring sesuai Standard Evaluation System for Rice. Uji ELISA (non precoated I-ELISA) dilakukan pada umur 21 hari setelah inokulasi menggunakan antibodi poliklonal RTSV (S) dan gabungan RTBV dan RTSV (BS). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh tetua betina terhadap pewarisan sifat ketahanan terhadap penyakit tungro. Ketahanan pada galur OBSTG02-124 dikendalikan oleh dua gen resesif komplementer. Nilai heritabilitas sedang mengindikasikan bahwa lingkungan berperan penting dalam menetukan ketahanan genetik galur tersebut terhadap tungro. Kata kunci: Genetika, ketahanan, padi, penyakit tungro. T ungro yang merupakan penyakit kompleks pada tanaman padi disebabkan oleh dua virus, yaitu virus berbentuk batang (Rice tungro bacilliform virus/RTBV) dan berbentuk bulat (Rice tungro spherical virus/RTSV). Kedua virus secara taksonomi berbeda dan dapat ditularkan oleh beberapa jenis wereng hijau (Nephotettix spp) secara semipersisten (Dai and Beachy 2009). Di Indonesia, penyakit tungro awalnya hanya dijumpai pada beberapa wilayah produksi padi di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Utara. Saat ini penyebarannya sudah mencapai 27 provinsi yang meliputi 142 kabupaten dan masih menjadi ancaman dalam peningkatan produksi padi (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan 2007). Salah satu teknik pengendalian penyakit tungro yang murah dan efisien adalah penggunaan varietas tahan. Varietas tahan tungro dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu varietas tahan wereng hijau dan varietas tahan virus tungro (Imbe 1991). Kendala penggunaan varietas tahan wereng hijau adalah sifat ketahanannya yang kurang langgeng, karena virulensi virus tungro terhadap varietas padi sangat bervariasi (Widiarta dan Kusdiaman 2002). Oleh karena itu diperlukan diversitas genetik ketahanan varietas padi terhadap vektor dan virus tungro sebagai salah satu upaya untuk memperpanjang masa ketahanan varietas terhadap penyakit tungro. Sumber gen ketahanan tanaman padi terhadap wereng hijau dapat diperoleh dari verietas Pankhari 203, ASD 7, IR8, Ptb8, ASD8, TAPL 796, Maddai Karuppan, DV85, IR28, IR36, IR20965-26-1-2, ARC10313, dan Asmaita, sedangkan sumber ketahanan terhadap RTBV dan RTSV adalah Utri Merah (Acc 16680), Utri Merah (Acc 16682), Utri Rajapan, ARC 11554, Balimau Putih, Adday Selection, Habiganj DW8, TKM 6, Oryza longstaminata, O. rufipogon, dan O. officinalis (Azzan and Chancellor 2002). Varietas tahan wereng hijau yang dilepas IRRI sejak tahun 1969 adalah IR20, IR26, IR28, IR29, IR30, IR34, IR36,